Like Us

Senin, 20 Oktober 2014

Diriku, Aku Rindu Ibu, Aku Kangen Ayah

Pernah gak sih kalian merindukan ibu dan ayah kalian? Rindu serindu-rindunya, kangen yang tidak bisa diungkapkan dengan kalimat? Ya, rindu itu hadir karena kita jauh dari mereka, bukan terbatas pada jarak, tapi juga bisa disebabkan oleh masalah-masalah ego yang kecil namun membesar tanpa pernah menguap.

Aku membaca buku "Ayahku (Bukan) Pembohong" karya Tere Liye, salah satu penulis favoritku dan baru sampai di chapter 14, Perpustakaan Sekolah. Aku terinspirasi untuk menulis sesuatu tentang rasa rindu terhadap kedua orang tuaku. Di buku tersebut pada chapter 13, Akademi Gajah, menceritakan Dam yang baru pulang dari sekolah berasrama yang jauh dari kota asalnya ke rumah dan berlibur di rumah, berkumpul bersama ayah dan ibunya. Hari-hari pertama Dam yang merindukan segala hal tentang kehidupan lamanya di rumah itulah yang membuat aku tersentuh, oh iya bener juga, aku melupakan hal-hal kecil itu, dan hadirlah tulisanku ini. Walaupun tulisan ini seadanya, setidaknya aku bisa bercerita dan berbagi buat kalian yang mau membacanya. Hehehe.

Oya, di lain kesempatan, aku akan mencoba untuk menulis resensi tentang buku Tere Liye, dua buku lain sudah aku selesaikan membacanya, yaitu Negeri Para Bedebah dan sekuelnya Negeri Di Ujung Tanduk. Nah, kalau yang masih dalam tahap pembacaan sekarang itu adalah buku Tere Liye yang seperti aku sudah jelaskan di paragraf sebelumnya. Hehehe. Ditunggu ya, soalnya karya Tere Liye itu luar biasa, jaminan bagus banget.

Back to topic deh ya, Aku tersentak loh ketika membaca tulisan dalam buku "Ayahku (Bukan) Pembohong" yang isinya :

"Maka tiga tahun melesat cepat. Aku kehilangan klub renangku - kudengar salah satu senior kami lolos ke final Olimpiade, meski gagal mendapatkan medali. Aku juga kehilangan malam-malam bersama Ibu, memijat lengannya. Aku kehilangan kesibukan menjadi loper koran, mengerjakan tugas-tugas rumah. Aku kehilangan teman-teman lamaku, kenalanku di jalanan kota, sepeda bututku, poster-poster sang Kapten di kamar, angkutan umum, dan di atas segalanya, aku kehilangan cerita-cerita Ayah yang menyenangkan. Cerita-cerita Ayah yang bisa memunculkan rasa tenteram, mengusir rasa sedih."

Yah, bagaimana enggak tersentak, aku lahir di lingkungan keluarga yang bekerja keras. Sejak aku kecil masih bersekolah TK besar di TK Jambu Hilir Kandangan, mama sudah mengajar sebagai guru SD dengan jarak tempuh yang sangat jauh, mama menyusuri puluhan kilometer jalan, membelah sungai besar dan panjang untuk menuju sekolah tempat mengajar di SDN Hakurung Dalam, Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Mama pulang seminggu sekali ke rumah, dan papa sering mengunjungi mama setelah berdagang di pasar sejak subuh hingga menjelang magrib.

Jujur saja, waktu ku bersama mama dan papa itu sedikit karena mereka bekerja dengan keras untuk mengubah nasib, agar kami, anak-anaknya bisa hidup layak seperti orang banyak, supaya mereka mampu memenuhi segala rengekan kami. Aku lahir sebagai anak pertama, aku menyaksikan bagaimana perjuangan hebat mereka. Sejak aku mengenal ditinggal pergi untuk bekerja, aku juga mengenal kata "mandiri".

Selepas aku SD, aku disekolahkan di Pondok Pesantren Ibnu Mas'ud Putra Jarau. Saat itu ibuku sudah pindah sekolah dan mengajar di SDN Ganda yang lebih dekat dengan rumah. Tanpa sepatah kata, tanpa penolakan aku setuju sekolah di sana. Santri hanya diijinkan pulang sebulan sekali, dan hanya pada hari Jumat saja karena libur sekolah kami hanya hari Jumat. Minggu? Kami tetap bersekolah.

Kadang seminggu atau dua minggu sekali, mama dan papa menjenguk ke Pondok. Kadang aku juga pulang ke rumah, menginap dan diantar pagi hari Sabtu pukul 06.30 WITA agar aku tidak terlambat masuk sekolah dan agar aku menginap di rumah, melepas kangen dengan mama dan papa. Jika aku ingin pulang ke rumah, aku berangkat dengan menaiki angkutan umum, tetapi sebelumnya kami harus berjalan dulu 800 meter untuk menuju jalan utama dimana angkutan umum lewat.

Selepas SMP selama 3 tahun di Ibnu Mas'ud Putra, aku diminta untuk memilih ingin bersekolah di Pondok Pesantren Gontor atau sekolah lain di Yogyakarta. Aku tidak berpikir akan meninggalkan mereka hanya untuk menuntut ilmu, tapi inilah yang direncanakan kedua orang tua ku, mereka sangat menyayangi kami, mereka ingin kami mendapatkan pendidikan yang tinggi dan layak. Aku pun diminta solat istikharah, dan akhirnya menetapkan untuk memilih sekolah di Yogyakarta.

Selama menempuh sekolah di Yogyakarta, aku pulang setahun sekali yaitu pada saat Hari Raya Idul Fitri. Hanya pada saat itulah aku dapat melepas rindu, memeluk mereka, bercengkrama, menikmati waktu santai dan melakukan pekerjaan rumah seperti meyapu lantai, mengepel, juga mencuci piring dan gelas. Aku selalu bahagia jika pulang, tetapi selalu berat ketika harus kembali ke Yogyakarta, meninggalkan mereka yang aku sayangi.
Setelah 3 tahun aku menyelesaikan masa SMA, papa menjanjikan sesuatu, akan membelikan apa saja yang aku minta tetapi aku harus kuliah di Banjarmasin saja agar papa bisa menjengkukku lebih sering. Selama aku sekolah di Yogyakarta, papa dan mama tidak pernah dapat mengunjungiku. Entah pikiran dan bujukan dari mana datangnya, aku memilih untuk tetap melanjutkan studi di Yogyakarta. Hingga saat ini, aku tidak tau apakah ini keputusan tepat atau tidak. Karna jujur saja, hanya papa yang menangis di bandara ketika pertama kali aku akan pergi ke Yogyakarta pada tahun 2004 untuk studi SMA. Mama menunjukkan sikap lebih tegar, matanya hanya merah di depanku, entah bagaimana ketika aku sudah memasuki ruang tunggu bandara.

Aku pun berlanjut ke masa kuliah, dan aku menyelesaikan kuliahku selama enam tahun, atau 12 semester. Sebenarnya aku jadwal kuliahku tepat waktu, dan tidak seharusnya terlambat empat semester. Tetapi, pada tiga semester pertama, aku terlalu fokus pada pekerjaanku. Ya, aku mendapatkan jatah skripsi tepat waktu dan menambah kesibukan dengan bekerja part time. Setelah tidak kunjung bisa fokus menyelesaikan skripsi, selain masalah kerja ada juga masalah teknis lainnya yang tidak patut aku tuliskan di sini. Setelah aku berhenti kerja dan memutuskan untuk fokus skripsi, Alhamdulillah pada bulan Juni 2013 aku dinyatakan lulus dan berhak mengikuti wisuda.

Kemudian aku bekerja di sebuah PT berskala nasional dan ditempatkan di cabang Banjarmasin. Aku bersyukur bisa bekerja di ibukota Kalimantan Selatan, karena aku bisa pulang dua minggu sekali ke rumah dan mama papa pun senang. Tetapi selama 6 bulan kontrak, aku  memutuskan untuk berhenti dan mengikuti seleksi lain hingga membawaku kembali ke Yogyakarta.

Setelah aku merenungkan potongan paragraf dari buku "Ayahku (Bukan) Pembohong" di atas - aku membacanya saat ini di Yogyakarta, sedang dalam proses seleksi kerja, aku merasa sudah banyak mengabaikan waktu-waktu bersama mama, papaku. Aku juga melupakan canda tawa bersama mereka. Aku tidak lagi membantu mama dan papa ku di rumah. Aku tau aku rindu mereka, tapi aku lupa mengapa aku rindu mereka. Dan itu sangat menyakitkan :(

Mama dan papa semakin menua, seharusnya aku sadar sebagai anak pertama, mereka lebih membutuhkan perhatian dan kehadiranku di rumah daripada kedua adikku. Aku yang seharusnya bertanggungjawab terhadap kebahagiaan mereka dari anak-anaknya. Adik pertamaku sedang kuliah di Yogyakarta dan baru menempuh semester tiga, sedangkan adikku kedua baru bersekolah kelas empat SD.

Aku sadar sudah terlalu lama jauh dari mereka, aku tau betul bahwa aku tidak memanfaatkan waktu-waktu ku untuk bersama mereka. Aku terlalu egois mengikuti ego dan keinginanku, memuaskan hasrat pribadi sehingga melupakan alasan kenapa aku rindu mereka. Aku tau aku rindu, tapi aku tidak tau kenapa rindu mereka. Menyakitkan bukan?

Semoga kalian yang membaca ini, bisa lebih menghargai waktu-waktu kalian bersama orang tua kalian sebelum semuanya terlambat. Selama mereka masih bernafas, gunakanlah waktu luang kalian untuk membahagiakan mereka. Kehadiran saja sudah menyenangkan mereka, apalagi jika kita ajak bercengkrama, jalan-jalan, berkumpul minum teh, makan malam bersama, membawakan hadiah kesukaan mereka.

Semoga mama papa, ayah ibu, bunda abah, abi umi, nyokap bokap, mommy papi, atau sebutan sayang lainnya untuk kedua orang tua kita, selalu sehat dan bahagia, bagi mereka yang sudah meninggal, semoga mereka ditempatkan di sisi TUHAN yang terbaik dalam kasih dan cinta TUHAN. Aamiin :)


Written by : Adetya M. Setiawan

Minggu, 19 Oktober 2014

Pengalaman Seleksi Rekrutmen Pegawai BPJS Kesehatan Tahun 2014

Assalamualaikum Wr Wb

Moshi ... Moshi ...

Apa kabar kawan semua? Aku harap kalian sehat jasmani rohani ya saat membaca tulisan ini, dan jangan sampai sakit setelah membaca isi blog ini. Hehehe

Hari ini aku mau berbagi pengalaman nih, bagaimana proses seleksi di BPJS Kesehatan yang baru aja aku ikutin. Yah, walaupun gak berending dengan hepi, setidaknya aku punya pengalaman yang bisa aku bagiin buat kalian sampai tahap yang membuat aku tidak bisa lanjut *kemudian menangis di pojokan dalam pelukan Marshanda* ups, maaf ngelantur dikit. Hahaha

Sebelumnya kalian sudah tau donk ya apa itu BPJS? Iya kan? Oh, ternyata masih ada yang belum tau, tuh lagi nyengir sendiri. Hayooo ngaku. Yap, BPJS itu adalah sebuah lembaga pemerintah berstatus BUMN yang bergerak di bidang jaminan pemeliharaan kesehatan untuk seluruh masyarakat Indonesia. BPJS itu pengganti ASKES loh, jadi secara bertahap pemerintah akan mengganti ASKES menjadi BPJS. BPJS itu sendiri badan penggerak untuk program pemerintah yang bernama JKN atau Jaminan Kesehatan Nasional. BPJS terbagi menjadi 2, yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan (kalo yang kedua ini, aku bahas di lain waktu ya). BPJS merupakan singkatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

Nah, itu tadi penjelasan singkat yang pernah aku pelajari dan pahami. Bukan tanpa alasan loh aku mempelajari apa itu BPJS Kesehatan, bukan juga karena BPJS ini keluar di mata pelajaran sekolah atau kuliah. Hehehe, tapi nanti di tengah-tengah tulisan kalian akan ngerti deh kenapa.

Lanjut ya, jadi proses awal aku mengetahui ada rekrutmen BPJS Kesehatan ini karena mendapat info dari salah satu pamanku, katanya coba liat BPJS kali aja ada penerimaan. Jadi aku tanya-tanya deh ke mbah Google, lacak sana sini kaya detektif Conan dan taraaaaaaa .... Memang lagi open recruitment !!!

Berangkat dari situlah, aku bersemangat untuk mendaftar seleksi di BPJS Kesehatan. Nah, berikut ini prosesnya teman ,,,


SELEKSI BERKAS

Aku nemu login untuk daftar online ini dari hasil penjelajahan di mbah Google, karna gak ada disediakan di web BPJS Kesehatan itu sendiri. Kenapa? kalo info yang aku dapat dari temannya temanku yang baru kenal sewaktu tes tertulis BPJS Kesehatan (Duh, ribet banget yah? Sabar deh ya, padahal aku sendiri gak ribet loh orangnya hehee) duh, sampai mana ya tadi, oya kenapa gak ada di web nya untuk daftar online karena tahun ini proses seleksi mereka bekerja sama dengan salah satu konsultan rekrutmen, PDV Consulting. Berbeda dengan tahun lalu, mereka melakukan perekrutan dengan SDM mereka sendiri, BPJS Kesehatan.

Nah, jadi awal input data itu ada 5 tahap untuk pengisian, penting banget kita memiliki email karna proses seleksinya gak bisa lewat POS dan hanya online, fardhu 'ain lah, wajib banget. hehehe. Jadi harus disiapkan tuh email, scan ijasah dan transkip nilai, seingat aku kita cuma upload itu, sama pas foto kalo gak salah inget ya. Yah buat jaga-jaga sih siapkan aja dulu semuanya, termasuk scan KTP, siapa tau kan dibutuhkan.

Adapun 5 tahap itu, aku diminta untuk mengisi keterangan diri, pengalaman kerja, riwayat pendidikan dan riwayat pelatihan kalo punya, lokasi tes dan upload dokumen. Well, gak ada kendala sih sewaktu daftar online, jadi lancar jaya aja. Waktu pengumuman seleksi berkas gak dikasih tau, jadi setiap hari aku pantengin tuh web nya untuk ngeliat hasil apakah aku termasuk yang lolos seleksi berkas. Setelah menunggu, tepat hari Jumat tanggal 19 September 2014, dan keluarlah namaku di lampiran peserta yang boleh ikut tes tertulis yang diadakan pada hari Senin tanggal 22 September 2014 di GOR UNY (waktu itu sih aku milih lokasi tes nya di Jogja) hehehe. Alhamdulillah, Allah memberikan aku kesempatan untuk ikut serta.


TES TERTULIS 

Hari Minggu tanggal 21 September 2014 aku siapin diri baik-baik tuh untuk tes, belajar dan tidur lebih awal, karena aku diwajibkan datang 1 jam sebelum tes dimulai, waktu itu tes dimulai pukul 08.00 WIB dan diwajibkan registrasi ulang sebelum tes dimulai. Pagi hari Senin nya aku berangkat dengan pede jam 06.30 WIB dan sampai di GOR UNY jam 06.50 WIB dan disana sudah banyak banget para pencari Tuhan, eh salah, duh korban sinetron nih, para pencari kerja maksudku, Hehe, maaf, garing ya?

Aku melirik sana sini, kok mereka semua kompak ! Kompak gimana sih? Mereka pake atasan putih dan bawahan kain hitam. Aku? Aku pake bawahan sih hitam, cuma atasannya BIRU men, langsung dag dig dug kok mereka semua kompakan ya, dapat info darimana pikirku. Tapi, untungnya aku sudah punya plan B, hahaha. Aku sudah membawa kemeja putih, buat jaga-jaga kalo dibutuhkan karna sehari sebelum tes itu aku bingung kok ga ada syarat dan ketentuan tes nya di web.

Nah, setelah parkirin kendaraanku, aku langsung menuju lokasi yang agak tertutup karna aku mau ganti baju, biar seragam kaya yang lain. Masalah pakaian pun beres. Nah, masalah lain muncul tuh, saat aku lagi antri, aku liat peserta tes di depanku, tinggi dan ganteng (duh, penting ya? sempet-sempetnya aku perhatiin hahaha), membawa beberapa lembar kertas di tangannya, aku peganglah tangannya itu dengan lembut, duh malah nulis yang gak-gak nih jadinya, hahaa, maaf ya, bukan kelainan tapi lagi kumat *sama ajaaaaaaaa*

Pas ngeliat kertas-kertas di tangan orang di depanku itu, aku langsung reflek nanya, apa itu yang dipegangnya, dia bilang itu kartu peserta tes dan surat pernyataan, aku tanya lagi dapat darimana, dia bilang dapat dari E-MAIL !!! Astagaaaaa, aku lupa hal kecil dan penting, NGECEK E-MAIL Pemirsaaaaah !!!!

Alamaaaakkkk, langsung aku buka deh e-mail dan yap ternyata ada !!! Semua yang aku butuhkan ada di sana, termasuk tata tertib peserta tes !!!! Omigoootttt, bego kali aku ini, kenapa gak kepikiran ngecek email. Untung masih ada waktu 1 jam, aku langsung lari keluar, tengak tengok nyari rental komputer atau warnet yang sudah atau masih buka. Aku gak bisa ambil motor karna sudah ketutup ama kendaraan lainnya, antrian masuk parkir juga sesak. Jadi aku putusin pake kaki-kaki kuat ku untuk nyari print-print.an sekitar sana.

Aku lari keluar GOR, lari ke arah timur jalan berharap fotokopian di seberang lapangan bola UNY buka, tapi ternyata masih tutup, jam 7 broooo siapa yang sudah buka? Aku pun langsung pikir butuh warnet, nyari lah sampe pintu masuk kampus UNY dan gak ada juga. Udah capek lari-lari kecil, hati malah nambah dag dig dug. Dan malaikat penolong pun lewat, cekraakkk cekraaakkk, cekraaakkk cekraaaakkk, si abang becak lewat, dia menoleh, aku melambai tanda gak pengen naik, tapi setelah 10 meter dia lewat, aku panggil deh abang becaknya.

Aku langsung nanya, ada warnet yang buka gak sekitaran sini, abangnya pun nginget-nginet, katanya ada tapi deket XXI men, jauhnya. Aku pikir, daripada lari dan gak bisa bawa motor, mending naik abang becak aja, alhasil aku naik becak dan minta abangnya untuk cepet-cepet nganter aku. Wuuuzzzzzz, melesatlah si abang becak kayak Flash superhero itu. Dan sampailah aku di sebuah warnet yang buka 24 jam, langsung turun minta si abang becak nunggu buat nganter aku lagi ke GOR UNY. Aku masuk warnet, ke bilik kosong dan langsung buka email dan download lalu print langsung. Taraaaaa, selesailah masalahnya. Aku pun langsung naik becak lagi minta diantar cepet-cepet ke GOR UNY.

Pas di becak ini, aku langsung isi biodata diri dan surat pernyataan yang udah di print, dan jangan lupa bawa materai gan, penting banget, selepas itu narsis dulu kali ya biar gak stres, soalnya ini pengalaman berharga banget buat aku. hahaha
Waktu yang aku butuhkan untuk aksi di atas sekitar 30 menit dan aku sempet ngantri untuk daftar ulang. Oya, si abang becak minta 40.000 ga ada tawar menawar, jadi langsung bayar cash deh segitu. Huhuhu, rejeki si abang becak. Mudahan barokah. hehee

Nah, langsung ke bahan tes, instruksi pertama tes tertulis di BPJS itu diminta ngisi biodata di lembar jawab, ini yang paling males deh, bukan apa-apa sih, lembar jawabnya ini ngingetin aku UAN atau sekarang yang disingkat UN, bulet-bulet pake pensil 2B, duh ya Allah, bakal pegel nih tangan. Tes tertulis selesai pada pukul 11.00 WIB.

Isi materinya itu ada pengetahuan umum, deret angka, sinonim-antonim, matematika dasar, dan sekilas tentang BPJS Kesehatan. Alhamdulillah karena sering ikut tes sana sini, jadi lumayan lah bia menjawab soal-soalnya walaupun yakinnya itu cuma 60% aja, soalnya kalo dibaca komputer, aku gak yakin bakal lolos karna bulatanku kacau balau deh. tapi, pertolongan Allah ada dan menjawab doaku untuk lolos ke tahap selanjutnya.


PSIKOTEST

Pengumuman yang lolos ke tahap psikotes ini juga gak ditentukan waktunya, jadi aku cek setiap hari info di web pdv consulting, 5 hari gak ada kabar juga, aku lupa jadinya, dan tepat hari Rabu tanggal 1 Oktober 2014 habis magrib aku ke warnet di JAGOnet, niatnya sih mau update film dan download One Piece terbaru, dan diakhir-akhir aku baru inget pernah ikut tes tertulis BPJS Kesehatan dan taraaaaaaa, kejutan lagi, ternyata ada info sejak tanggal 29 September 2014 siapa aja yang lolos, aku cek dan namaku ada di sana. Alhamdulillah, pertolongan Allah masih ada buat aku.

Yang menjadi kejutan adalah, psikotes diadakan besok pagi, hari Kamis tanggal 2 Oktober 2014 men, aku gaka da persiapan apa-apa, dan langsung buka email. Aku unduh semua keperluan psikotes yang udah dikirimin panitia, aku print deh langsung dan aku isi biodata diri yang panjang setelah selesai urusan di warnet.

Psikotest berlangsung di gedung Wanitatama jalan Solo, tetangganya UIN SUKA sama siapa ya? eh, maksudnya ... You know lah, hehe. Maaf ngelantur lagi. Pukul 07.00 WIB aku sudah di lokasi, antri masih panjang dan banyak, ada 3 gedung yang disediakan untuk psikotest dan aku milih di gedung paling barat.

Psikotest agak terganggu sedikit, karna waktu molor dari jadwal, trus banyak yang ke WC tapi Wc nya cuma tersedia sedikit, ada juga peserta tes di Semarang, malah nyasar ke Jogja ada bertiga kalo gak salah, 2 cewek dan 1 laki-laki dan mereka dinyatakan gak bisa ikut tes di Jogja sesuai instruksi dari pihak panitia, lalu ada juga yang gak membawa surat pernyataan dan materai, juga disuruh keluar gak bisa ikut psikotes. Duh, beberapa orang pun keluar karena ada yang gak bawa surat pernyataa, gak bawa materai dan gak bawa keduanya. Padahal surat pernyataan itu sudah dikumpul waktu tes tertulis pertama, gak tau kenapa panitia minta kembali yang baru.

Psikotes mulai pukul 08.30 WIB dan selesai pada pukul 12.20 WIB. Materi psikotes pertama itu tes IST, untuk mengukur intelek apa enggaknya seseoranglah, haha. Isi tes IST itu ada pengetahuan umum, antonim-sinonim, deret angka, matematika dasar, bangun ruang, dan hapalan, itu sih yang aku inget, kalo mau lebih jelas tanya mbah Google ya. Kita diberi waktu singkat untuk menjawab soal-soal per materinya, jadi harus fokus terus ya dan jangan terpaku pada soal yang susah.

IST selesai, lanjut ke tes Kraeplin, tes untuk ngukur kecepatan, ketepatan dan konsistensi kita bekerja. Jadi kita disediakan selembar deret dan baris angka yang harus kita jumlahkan, sebesar koran lah, mirip dengan tes pauli cuma kalo Kraeplin hitungnya dari bawah ke atas. nah, kalo ini perlu konsentrasi maksimal dan power ranger, eh power tangan yang kuat.

Lalu lanjut ke tes WARTEGG, Drawing a Man dan Drawing a Tree. Ketiga tes ini langsung ba bi bu, cuma 15 menit untuk ketiga tes, jadi maksimal masing-masing 5 menit untuk menyelesaikan gambar ketiganya.

Tes terakhir ini yang bener-bener diminta cepat, tes nya itu untuk ngukur kepribadian kita, aku lupa nama tes nya, kalo gak salah inget sih namanya itu tes PAPI. kita diharusin milih salah satu dari dua pernyataan yang mendekati kita, kalo jawabannya A maka lingkari tanda panah yang mendatar, kalo jawaban kita B maka lingkari tanda panah miring. Nah, apa itu namanya? hehehe,

Selesai tes, diminta absensi dan pulang, karena besok hari Jumat tanggal 03.00 diminta datang untuk wawancara. Alhamdulillah.


WAWANCARA

Pagi jam 08.00 WIB aku tiba di gedung Wanitatama, kali ini lebih santai karna waktu wawancara sudah ditentukan sesuai nomor urut sewaktu psikotes dan aku dapat jadwal jam 09.00 WIB tapi molor karena interviewer nya pada datang telat dan mulai jam 08.00 WIB yang seharusnya dimulai pukul 07.00 pagi. AKu dapat panggilan menjelang pukul 10.30 WIB dan bertemulah aku dengan interviewer cantik, muda, berhijab warna hitam dan senyam senyum cenge-ngesan. hehehe, jujur nih, mbaknya bikin aku ketir, mbaknya nunjukin kalo dia excited banget dan bertanya macam-macam.

Pertama aku diminta nunjukin ID card KTP, ijasah asli, transkip nilai dan akreditasi fakultas. Lalu dia mulai nanya seputar diri pribadi, sekolah, kuliah, pekerjaan sebelumnya, tau gak apa itu BPJS Kesehatan dan apa tugas sebagai UM (posisi yang aku lamar, kasian ya aku baru bisa melamar UM, kapan melamar wanita ya?) Hehehe. Lanjut deh ya, terus juga nanya siap apa enggak ditempatkan di luar kota atau pulau, terikat kontrak 2 tahun kalo mengundurkan diri atau dipecat selama masa kontrak, kena denda 100juta boooo. Ngeriiikkk kan....


Nah, itu aja sih yang dintanyain, kalo ada yang aku lupa dan inget lagi, nanti aku update deh.
Proses selanjutnya nunggu lagi tuh, kali ini lebih lama waktunya, cek web BPJS Kesehatan dan PDV Consulting 3 kali sehari, udah kayak minum obat aja, tetep gak keluar sampai hari Kamis tanggal 16 Oktober 2014 dan Alhamdulillah, ternyata Allah punya rencana lain buat aku yang lebih baik, Insya Allah.

Aku gak lolos ke tahap tes komputer, padahal kalo sampai tahap tes komputer, aku yakin bisa lolso ke tahap selanjutnya lagi, soalnya aku pernah bekerja di bidang terkait selama 2 tahun part time di sebuah toko di Jogja sewaktu masih semester akhir. Tapi, inilah rencana Allah. Hehehe, Aku belom dapat rejeki di BPJS Kesehatan.

Okeeee teman, kalo ada yang mau sharing atau komentar atau kritik saran dan minta tolong sesuatu, kirim aja komentar kalian di sini atau kirim email ke detyabungas@gmail.com juga bisa. Insya Allah aku siap membantu. Hehehe, Ciao Bella >>> :*

Assalamualaikum Wr Wb

Written by : Adetya M. Setiawan

Jumat, 17 Oktober 2014

Kepedulian Di Jalan

Gambar diundur dari Google


Jalan, merupakan sebuah pijakan untuk melangkah atau berdiam di atasnya dengan kecepatan tertentu dan dengan alat apapun. Ada beberapa macam jalan, diantaranya jalan beraspal, jalan bertanah, jalan berbatu, jalan bersemen, dan sebagainya. Jalan beraspal adalah jalanan tipe umum yang sangat banyak kita temui.

Ada berbagai macam aktivitas di atasnya, seperti orang-orang berjalan, berlari, berkendaraan, berjualan dan beristirahat. Ada banyak kejadian yang dapat kita temui di jalanan. Ada banyak pula tipe orang yang kita lihat dan temui. Maka ada banyak juga reaksi yang tercipta dari macam-macam kondisi di jalanan.

Nah, berikut ini aku mau mencoba berbagi pemahaman dan pemikiran ku tentang kejadian-kejadian selama aku menapaki jalanan. Cekidot gan.

1. Mereka Yang Menyeberangi Jalan

Setiap titik jalan yang kita lewati, pasti ada orang-orang yang ingin menyeberangi jalan. Tipe mereka yang menyeberangi jalan dan tujuannya ada banyak. Salah satunya yang patut aku perhatikan adalah kakek/nenek yang ingin menyeberangi jalan, baik dengan atau tanpa barang bawaannya.

Gambar diunduh dari Google*

Kalian yang berkendara di jalanan dan menghadapi kejadian di atas, aku yakin, kalian yang membaca tulisan ini pasti tidak akan peduli dengan mereka. Kalian tidak akan memberikan kakek/nenek tersebut kesempatan untuk menyeberang jalan, mengutamakan mereka. Kalian tidak menghentikan laju kendaraan sejenak saja untuk memberikan mereka waktu untuk menyeberang, atau kalian tidak menepikan kendaraan untuk menyeberangkan mereka. Pernahkah? Yah, mungkin sedikit diantara kalian yang melakukannya, atau pernah melakukannya. Aku pun, masih saja mendahulukan kepentinganku, daripada menolong mereka.

Kakek/nenek yang menyeberang seharusnya mendapat prioritas di jalan untuk menyeberang. Kita terlalu egois dengan waktu dan tujuan kita sehingga melupakan kepedulian kita terhadap sesama. Mereka bukan sosok manusia yang tangguh, mereka tidak memiliki daya lihat sesempurna kita yang masih muda, mereka tidak lagi memiliki kewaspadaan yang tinggi di jalan, mereka lemah dan perlu mendapat pertolongan kita. Tapi, kita masih saja tidak sadar dengan hal kecil ini. Bagaimana kita mau peduli dengan hal besar kalau dengan hal kecil seperti ini saja kita mengindahkannya?

Hal ini juga berlaku untuk mereka yang buta, memiliki kekurangan fisik, mental atau anak-anak. Mari kita belajar untuk peduli.


2. Mereka Mencari Rejeki, Bukan Mengemis

Di berbagai perhentian traffic light, baik pertigaan, perempatan, perlimaan atau berapapun persimpangan jalan dengan lampu merah, hijau dan kuning pasti kita temui mereka yang bekerja dengan menjual koran. Yap, kalian pasti pernah menemui mereka, dan mereka pasti pernah menawarkan koran-koran yang mereka pegang untuk kalian beli. Pernah kah?

Gambar diunduh dari Google*

Kalau sedikit saja kita membuka pikiran dan perasaan, kita pasti membeli satu koran mereka. Entah memang ingin membacanya, atau sekedar ingin melariskan jualan mereka. Kenapa? Karena sesungguhnya mereka itu menjaga diri mereka dari perilaku mengemis dan meminta-minta. Marilah, kita membeli koran mereka, yang biasanya dapat kita beli dengan harga Rp 2.000,-, jangan memberi mereka uang cuma-cuma tanpa mengambil koran mereka, karena hal itu saja kita menganggap mereka sebagai pengemis. Marilah, kita lebihkan harga jualan mereka, jika harga satu korannya Rp 2.000,- maka kita bisa lebihkan menjadi Rp 3.000,- atau Rp 5.000,- atau berapa rupiah pun yang kalian ikhlas untuk membelinya. Kita tidak pernah tau, akan mereka gunakan untuk apa lebihan uang yang kita berikan. Mungkin mereka tabung, mereka belikan makan, mereka berikan untuk orang tua, atau untuk hal lainnya yang tidak pernah kita ketahui. Semoga saja hal positif. Jadi, mulailah dari sekarang :)

Hal serupa juga berlaku pada mereka yang berjualan keliling, baik berjalan atau berkendaraan, baik jualan mereka makanan atau barang lainnya. Belilah, walau kalian tidak membutuhkannya. Bukan bermaksud untuk mubazir, tapi kita bisa memanfaatkan apa yang kita beli dari mereka.


3. Mereka Yang Berjalan, Berikan Tumpangan

Gambar diunduh dari Google*

Jika menyusuri jalanan dengan kendaraan, kita mungkin pernah melihat ada saja seseorang yang berjalan. Baik itu anak muda, orang tua, laki-laki atau pun perempuan. Maka berilah mereka tumpangan. Kita bisa memilih dan memilah mana pejalan kaki yang membutuhkan tumpangan kita. Seperti ibu-ibu yang membawa barang atau menggendong anaknya, kakek yang berjalan bungkuk, atau mereka yang menurut kita perlu diberikan tumpangan dengan tetap memperhatikan tata tertib berlalu lintas yang benar.


4. Mereka Yang Bermasalah, Maka Bersabarlah

Kecelakakaan, penjambretan, pencurian, atau tindak kejahatan lainnya di jalanan yang kita temui, hendaknya kita bersabar. Kita manusia, kita dengan berbagai macam profesi, jangan mudah terprovokasi untuk menghakimi mereka yang terlibat musibah, mereka yang menjadi pelaku kejahatan di jalanan. Kita tidak dibenarkan untuk memukuli penjambret yang tertangkap secara masal, kita tidak diperbolehkan secara hukum untuk mengeroyok pelaku pencurian kendaraan bermotor, kita tidak bisa melakukan penghakiman dengan kekerasan tanpa akal sehat dan hati nurani.

Gambar diunduh dari Google*

Kita adalah manusia, makhluk Tuhan yang dianugerahi akal dan hati untuk dapat menilai mana yang baik dan buruk, mana yang seharusnya dan tidak seharusnya. Kita dibekali ilmu dan diajarkan adab, sehingga hal itu yang menjadikan kita berbeda dengan binatang. Jika kita asal main hakim sendiri, hewan pun mampu melakukannya !!! Bahkan kita sering kali menemui manusia-manusia yang lebih hina dan lebih kejam daripada binatang. Apakah kalian termasuk salah satu dari mereka? Bagaimana kalau pelaku tersebut adalah salah satu kerabat, teman, sahabat atau orang yang kita kenal? Berubahlah, wahai sahabat !!! Kita tidak pernah tau apa yang menyebabkan mereka melakukan tindakan kriminal tersebut.


5. Bersedekah Untuk Mendapat Berkah

Banyak orang-orang yang kita temui tidak memiliki apa yang kita miliki. Kita mempunyai banyak hal, tetapi sebagian mereka yang di jalan sangat kekurangan. Aku pernah melihat seorang anak perempuan yang sedang berjalan di trotoar, pakaiannya lusuh, badannya gelap karena dipenuhi debu jalanan, dan TANPA SANDAL !!! Kemudian aku melihat ada bapak-bapak yang mungkin umurnya 40 tahun jika dilihat dari perawakannya, berjalan bersama anak gadisnya yang jika aku lihat dari wajahnya masih bersekolah di SMP. Bapak tersebut berjalan menghampiri anak perempuan itu dan berbicara sesuatu kepada anak gadisnya, lalu mengambil sendal anaknya dan memberikannya kepada anak perempuan yang lusuh tersebut. Kemudian bapak itu pergi meninggalkannya dengan menggendong anak gadisnya.

Gambar diunduh dari Google*

WOW !!! Pernahkah kalian mendapati peristiwa serupa? Ataukah kalian pernah bersedekah kepada mereka yang kekurangan dan lebih membutuhkannya daripada kita? Jujur saja, aku pun belum pernah melakukannya sebelum melihat kejadian itu. Aku tersentak, aku juga malu kepada diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku tidak melihat kebaikan kecil di depanku? Mungkin kah kalian juga?

Aku juga berpikir bahwa jika kita mau membuka mata dan kepedulian kepada sesama untuk memberikan sedekah, dalam bentuk apa saja, maka kita akan menikmati indahnya kepedulian. Berpikirkalah jika kita memiliki Rp 50.000,- dan bersedekah dengan membelikan mereka yang dibutuhkan sebesar Rp 30.000,- maka jangan kalian hitung akan berkurang Rp 20.000,- TAPI hitunglah akan bertambah menjadi Rp 500.000,- karena kita tidak pernah tau kebaikan apa yang akan kita dapatkan dari Tuhan, jika kita mau dan ikhlas serta bersabar. Mulailah untuk berpikir tanpa pamrih :)


Mungkin ini lah yang dapat aku sharing dengan kalian, jika nanti aku teringat sesuatu dan mendapat ilham baru, nanti bisa diupdate lagi. Atau jika teman-teman ada yang ingin menambahkan, silakan loh. Dengan senang hati aku akan menghargainya. Mohon maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan, aku menulis ini bukan untuk berceramah atau menyindir salah satu pihak, tapi aku hanya ingin berbagi. Semoga bermanfaat ya :)

*Gambar hanya ilustrasi, mohon maaf jika ada yang tidak berkenaan


Writen by : Adetya M. Setiawan

Kamis, 16 Oktober 2014

Hikmah Uang 1.000 Rupiah

 Gambar diunduh dari Google


Ada seorang karyawan sebuah perusahaan swasta di Yogyakarta yang selalu pergi pulang bekerja menggunakan angkutan umum, bis kota. Ia berangkat dari rumah pukul 07.00 WIB dan harus tiba di kantor sebelum pukul 08.00 WIB. Suatu hari, ia menaiki sebuah bus kota langganannya yang juga selalu melewati jalur pada pukul yang sama. Ia duduk di dua kursi paling belakang dan seorang kernet menagih pembayaran sebesar Rp 4.000,- lalu karyawan tersebut menyodorkan uang Rp 5.000,-. Sang kernet pun memberikan uang kembalian kepada karyawan tersebut dan berlalu ke arah depan menuju penumpang lain.

Ketika hendak memasukkan uang kembalian ke dompet, karyawan tersebut kaget karena uang kembalian tersebut sebesar Rp 2.000,- yang mana seharusnya uang kembalian yang ia dapatkan adalah Rp 1.000,-.

"Ehm, aku kembalikan atau aku biarkan saja ya? Toh pemilik bus kota ini juga sudah kaya, dan menurutku ia tidak akan keberatan jika aku harus mengambil uang yang nilainya kecil seperti Rp 1.000,- ini. Aku kan juga pelanggan setia bua kota ini" Gumamnya dalam hati.

Ia pun turun dengan perasaan tanpa bersalah, dan menuju kantornya. Selama 5 hari selanjutnya pun ia selalu mendapati uang kembalian berlebih Rp 1.000 setiap harinya. Ia berpikir tidak mungkin harga penggunaan bus kota ini turun karena ia melihat penumpang lain membayar Rp 4.000 seperti biasanya. Hingga akhirnya ia gelisah dan bertanya pada hari ke-7 yang juga seperti hari sebelumnya, sang kernet selalu memberikan uang kembalian berlebih Rp 1.000,-.

"Bang, ini kembaliannya kelebihan Rp 1.000" Kata karyawan tersebut sambil menjulurkan uang Rp 1.000,-.
"Kenapa kamu kembalikan? Ini kan hanya Rp 1.000,- saja." Tanya sang kernet.
"Yah, ini kan bukan hak saya bang" Terang karyawan tersebut.
"Wah terima kasih ya mas, mas sudah jujur. Saya sangat menghargai sikap mas hari ini karena sebenarnya saya sengaja memberikan uang kembalian berlebih itu untuk mengetahui apakah mas orang yang jujur" Jelas sang kernet.

Betapa kagetnya karyawan tersebut, ia tersentak dengan penjelasan sang kernet. Jadi, selama ini kejujuran dirinya diuji oleh seorang kernet bus kota selama 7 hari dan selama itu pula ia telah menjual kejujuran juga harga dirinya hanya untuk uang Rp 1.000,- saja. Ia pun merasa malu dan wajahnya memerah. Ia diam tanpa kata.

"Saya senang akhirnya mas bisa jujur, mas tidak perlu malu, karena keberanian mas untuk berbuat jujur hari ini sangat membuat saya senang. Kejujuran memang harus dimulai dari hal kecil, sehingga nanti kita juga akan berani jujur untuk hal yang lebih besar. Kita manusia memang suka menyepelekan sebuah masalah dan nilai-nilai kehidupan tanpa menyadari kebaikan dan keburukan yang terkandung di dalamnya. Selamat, akhirnya mas menjadi orang yang jujur." Jelas sang kernet, lagi.

-end of story-


Written by : Adetya M. Setiawan
Inspired by : 20 Sen

Rabu, 15 Oktober 2014

Kamu Pasti BISA !!!

Gambar diambil dari KOMPAS


Ada sebuah cerita menarik dari Cina, dimana seorang gadis muda yang gemuk, anggap saja dia memiliki berat badan 150kg dan tingginya 170cm. Dia tinggal bersama ibunya yang sudah tua. Mari kita panggil gadis muda itu dengan nama, Xiaomi. Kenapa Xiaomi? Yep, karena dia berasal dari Cina, jadi ambil saja nama dari asalnya. Hehehe,,,

Xiaomi sering kali mendapatkan ejekan dan cemoohan dari teman-temannya, penyebabnya sepele, yaitu karena dia gemuk dan dianggap tidak layak untuk berteman. Keadaan inilah yang membuat Xiaomi bertanya kepada ibunya.

"Ibu, aku ingin kurus seperti teman-teman, aku sudah lelah menerima ejekan dari semua orang. Aku ingin berubah, ibu. Bagaimana caranya?" Tanya Xiaomi. Sang ibu pun menceritakan sebuah kisah singkat, katanya ...

"Xiao, sayangku. Ada legenda yang mengatakan bahwa di sisi gunung ini terdapat sebuah sumur tua yang tidak berair.Sangat kering dan jika kamu melihat ke dalamnya, kamu hanya dapat melihat kegelapan. Sumur itu sangat dalam, dan ada banyak orang yang berusaha untuk mengisi sumur tersebut dengan air. Kenapa? Karena mereka percaya bahwa siapa saja yang mampu mengisi sumur tersebut hingga terisi penuh oleh air maka ia akan mendapatkan keajaiban dari Tuhan. Sebuah harapan yang dapat terkabul." Jelas sang ibu.

Mendengar cerita sang ibu, Xiaomi pun bertekad untuk mengisi sumur tersebut hingga penuh. Setiap hari ia berjalan dari rumah menuju sungai, menimba air dengan dua buah ember yang disatukan dengan sebatang kayu sehingga ia dapat memikulnya, lalu mendaki jalanan menuju sumur yang terletak di sisi gunung. Jarak dari rumah Xiaomi ke sungai sepanjang 1 km dan dari sungai menuju sumur tua itu sepanjang 10 km. Sehingga total jarak yang akan ia tempuh adalah 44 km jika ia pulang pergi sebanyak 2 kali sehari.

Hari demi hari telah dilewati Xiaomi, meskipun sesekali ia mengadu kepada ibunya karena lelah, dan bahkan semakin diejek oleh teman-temannya karena apa yang dilakukannya dianggap sesuatu yang tidak penting dan tidak mungkin sanggup dikerjakannya. Tetapi, sang ibu memberi Xiaomi semangat dan cinta yang mampu membuat tekad Xiaomi kembali kuat seperti sedia kala. Hingga suatu hari ...

Xiaomi terengah-engah memikul dua buah ember yang terisi air penuh dan ditumpahkannya air tersebut ke dalam sungai, lalu ...

Byaaarrrrr ...

Yaaakkk, sumur tersebut telah terisi pebuh !!! Hingga tumpah ruah membasahi kedua kaki Xiaomi yang kotor. Betapa ia kaget melihat apa yang ada di permukaan air sumur tersebut. Ya, apalagi kalau bukan bayangan wajah dan dirinya. Ia pangling, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Itu bukan dirinya, ia pikir. Beberapa detik pun ia menyadari, bahwa bayangan di riak air sumur tersebut adalah dirinya. Xiaomi meneteskan air mata, ia tidak percaya dengan keajaiban yang dibuatnya. Ia telah langsing, ia tidak lagi memiliki bobot 150kg. Bagaimana bisa? Percayakah kalian?

-end of story-

N/B :
Keajaiban akan tercipta, jika kita mau percaya, memiliki keinginan kuat dan dipadukan dengan usaha yang keras. Jika kita menghendaki sesuatu, maka perjuangkanlah dengan 100% kemauan dan 100% usaha keras. Berjuanglah untuk melakukan perubahan untuk diri kita sendiri, untuk masa depan kita sendiri. Kita adalah apa yang kita percayai dan apa yang kita lakukan. Jadi, berhentilah merengek, berhentilah mengumpat, berhentilah menyalahkan diri sendiri !!!! 

Mari kita berusaha, maka Tuhan tidak akan membiarkan kita mati dengan keadaan yang buruk.


Written by : Adetya M. Setiawan
Inspired by : Sebuah iklan menyentuh hati dari China

Senin, 13 Oktober 2014

Membasmi Rindu itu, MAHAL !

Ada seorang laki-laki yang bekerja seharian hingga pulang larut malam. Dia memiliki seorang anak yang berumur 5 tahun. Suatu ketika si anak menunggu kepulangan laki-laki tersebut, yaitu sang ayah, kemudian terjadilah perbincangan singkat.

Anak : ayah, boleh aku bertanya sesuatu?
Ayah : ya, apa itu nak?
Anak : ayah, berapa rupiah yang ayah dapatkan dalam 1 jam bekerja?
Ayah : nak, itu bukan sesuatu yang harus kamu ketahui.
Anak : tolong beritahu aku ayah.
Ayah : 200.000 perjam nak
Anak : ayah, bolehkah aku meminjam 100.000 saja?

Mendengar perkataan si anak, sang ayah pun langsung naik pitam dan menyuruh si anak untuk segera masuk ke kamar. Si anak pun langsung pergi ke kamarnya dan menutup pintu kamar. Selang beberapa menit, sang ayah menjadi tenang dan pergi ke kamar anaknya, lalu berkata ...

Ayah : maafin ayah nak sudah terlalu keras terhadapmu. Ini ambilillah 100.000.

Si anak pun tersenyum lebar, dan berkata "ooohhh terima kasih banyak ayah".

Lalu si anak mengambil beberapa lembar uang di bawah bantal tidurnya yang telah dia tabung hari demi hari dari uang saku sekolahnya, dia menghitungnya dan berkata ...

"Ayah, sekarang aku punya 200.000. Bisakah aku membeli 1 jam saja dari waktumu bekerja? Aku harap ayah bisa pulang 1 jam lebih awal besok. Aku ingin makan malam bersama ayah".

-end of story-

NB : seberapa mahal kah waktu mu untuk orang yang kamu sayang? Waktu untuk ayahmu, waktu untuk ibumu, untuk anak istrimu, atau mungkin suami mu? Atau siapapun yang kamu sayangi?

Ingat, kamu tidak bisa membeli waktu, sahabatku.


Kebaikan Kecil Yang Mengubah Jalan Hidup


Foto diunggah dari : oaa-microsystem06.blogspot.com


Ada seorang anak laki-laki berumur 8 tahun, pakaiannya lusuh, badannya kotor dan ia terlihat tegang dengan kepalan kedua tangan yang sesekali merenggang gemetaran. Matanya melirik ke segala sudut toko yang bisa ia jangkau. Berulangkali ia membasahi bibir dengan lidah kecilnya dan kemudian ....

*blaaasstt*

Secepat kilat dia mengambil sesuatu yang terletak di sebuah rak. Ia pun melangkah keluar toko, memegang erat sesuatu di dalam kepalan tangannya yang didekapkan ke perut, bergegas ingin pergi, tetapi ...

"Hey, apa yang kamu lakukan?" Teriak seorang wanita paruh baya sembari memegang tangan anak laki-laki tersebut dengan gesit.

Anak laki-laki tersebut diam, menundukkan kepala.

"Oh, kamu mau mencuri di toko ku ya" lanjutnya, suaranya menggema keras, menampakkan nada marah di tengah-tengah suara hujan yang deras.

"Dasar gelandangan, dari kecil saja sudah mencuri, bagaimana jika kamu nanti tumbuh besar?" Bentaknya, lalu wanita itu menyeret anak laki-laki tersebut keluar toko dengan kasar, menghilangkan keramaian pasar dengan aksinya. Suaranya masih saja berkicau layaknya sedang dilanda perampokan besar.

"Pergi sana, jangan pernah aku melihatmu lagi berkeliaran di sekitar sini, jika kamu tidak ingin aku pukul !" ancamnya. Di seberang toko, berjalanlah pak Tono menghampiri anak laki-laki tersebut. Ia berjongkok membalikkan badan anak laki-laki itu, di depan pemilik toko yang belum juga berhenti mengumpat.

"Apa yang kamu curi?" Tanya pak Tono. Anak laki-laki itu hanya diam, masih menunduk. Lantas pak Tono melihat apa yang dipegang pemilik toko, dan mengeluarkan beberapa lembar uang.

"Ambillah, ini untuk obat yang dia curi" kata pak Tono dengan disambut oleh tangan pemilik toko. "Apakah orangtua mu sakit?" Tanya pak Tono, lagi, kepada anak laki-laki itu. Tapi hanya keramaian pasar dan ribuan tetesan hujan yang menjawab silih berganti. Kemudian pak Tono, berteriak ke arah warungnya dan meminta anak perempuannya, yang nampak lebih muda dari anak laki-laki tersebut, untuk membungkus sebuah sup panas jualannya. Si anakpun menurut dan memberikannya pada ayahnya, pak Tono.

"Ini nak, ambillah. Kamu tidak perlu mencuri." Ucap pak Tono dengan lembut, menyodorkan sebungkus sup panas dan beberapa keping obat yang sudah ditebus dari pemilik toko. Anak laki-laki itu masih aja bungkam, suaranya tidak bergeming tetapi kepalanya menatap ke arah pak Tono, beralih ke tangan dan mengambil bungkusan tersebut dengan cepat seraya memutar badannya. Ia berlari dengan kecang di tengah-tengah hujan yang membasahi pasar. Aktivitas disana pun kembali seperti biasanya, hingga beberapa tahun terlewati. Anak gadis pak Tono pun tumbuh dewasa, seiring merentanya tubuh pak Tono.

Aktivitas mereka tetap sama, berjualan sup di pasar. Ketika lapak penghasil rupiah pak Tono sedang ramai, seperti biasa pak Tono dengan lincah melayani tamu-tamunya, dan ...

*praaangg, braaakkk* Kelincahan itu hilang, kaku. Pak Tono sudah jatuh tidak bergerak di lantai. Usianya sudah tidak bersahabat dengan tekad kuatnya untuk bekerja. Ia pun dilarikan ke rumah sakit oleh sang anak, dibantu orang sekitar. Di rumah sakit, sang anak menanti dengan was-was. Ia berjalan mondar mandir, seperti setrika yang panas akan penantian 'apa yang terjadi dengan ayahku'.

Decit pintu memecah kegelisahannya, sang anak menghampiri dokter yang keluar dari ruang pemeriksaan tempat pak Tono terbaring. Betapa kaget bukan kepalang, ketika sang anak mendengar apa yang terjadi pada ayahnya. Jatuh pingsan pak Tono tidak membuatnya risau, karena hanya disebabkan kelelahan bekerja, tapi ...

"Apakah itu benar dok? Ayah saya menderita kanker? Astaghfirullah ya Allah ..." isak sang anak. Sembari menenangkan sang anak, dokter menyarankan untuk dilakukan operasi untuk mencegah penyebaran kanker, untuk dapat memulihkan kembali ayahnya.

"Operasi? Uang dari mana?!" Gumam sang anak dalam hati. Ia pun lemas, tidak hanya karena penyakit pak Tono, tapi juga masalah pembayaran untuk operasi. Ia ingin ayahnya sembuh, tapi bagaimana? Tabungannya tidak mungkin cukup, bahkan kalau harus menjual rumah sepetaknya pun, apakah sanggup untuk membiayai operasi dan pengobatan ayahnya.

Setelah mempertimbangkan dengan matang, sang anak setuju untuk mengoperasi pak Tono, bagaimana pun caranya, ia yakin Tuhan pasti akan menolongnya, bahkan jika ia harus menjual seluruh harta yang dimilikinya. Pak Tono pun dibawa ke ruang operasi, dokter sudah bersiap, melakukan yang terbaik untuk pasiennya.

Operasi memakan waktu 6 jam, dokter memberitahu sang anak bahwa operasi berjalan lancar dan ayahnya dapat disembuhkan, lalu dokter pun kembali ke ruangannya. Ketika hendak duduk, seseorang mengetok pintu, dan masuklah ia tanpa komando dari dokter.

"Dok, berapakah biaya yang harus saya bayar, untuk seluruh pengobatan ayah saya hingga sembuh? Saya sudah menyiapkan surat tanah dan rumah, toko dan saya bersedia untuk menjual organ dalam saya jika memang masih kurang." Katanya, anak pak Tono. Dokter hanya diam, terpaku melihat sang gadis yang sangat menyayangi ayahnya.

Selang dua hari, sang anak masih setia menemani ayahnya yang tertidur di atas ranjang rumah sakit, sang anak juga pulas tidur, duduk di sebuah kursi, meletakkan kepalanya di atas sisi ranjang sambil memegang kuat tangan pak Tono. Ketika sang anak membuka mata, dia menemukan sebuah amplop tagihan dari rumah sakit. Hatinya berdegub kencang, semakin kencang, ia tidak tau harus membukanya atau tidak, tangannya gemetar, matanya mulai sembab. Ia tidak sanggup jika harus melihat angka-angka di dalam amplop tagihan itu. Perlahan, ia membuka surat itu, betapa herannya ia ketika membaca selembar kertas yang berisi :

"Tagihan operasi, obat dan biaya-biaya lainnya atas nama pak Tono sudah dibayar lunas sejak 20 tahun yang lalu dengan sebungkus sup dan obat. Tertanda : dr. Slamet Prihambudi"

 ... dan air mata pun membanjiri wajah cantik sang gadis, anak pak Tono.

-end of story-


Rabu, 15 Mei 2013

Gathering Nasional FCB Indonesia 2013



Halo Cules dan Nona Barca!

Masih hangat dong ya suasana akhir April kemarin setelah FCBI CUP 2013 yang di Bekasi. Seru ya bisa kangen-kangenan ama saudara-saudara kita lebih dari 11 regional. Rasanya seperti mini-Gatnas walau tidak semua regional ikut berpartisipasi. Tapi tetap saja ketika kita berkumpul menjadi satu kesatuan akan menjadi Keluarga FCBI. Yang kangen dengan suasana seperti itu pasti kangen juga suasanaGatnas FCBI 2012 di Surabaya.

Nggak terasa sudah setahun lebih sejak Gatnas kedua di Surabaya kemarin. Dan sekarang ayo kumpul lagi rame-rame di acara Gatnas FCBI 2013 di Yogyakarta!

Kenapa di Yogya

Yeach setelah melewati voting pada bulan Mei, peserta voting sepakat untuk mendaulat FCBI Regional Yogyakarta menjadi Tuan Rumah Gathering Nasional ke-3 FCBIndonesia.

Sudah tidak sabar ya mau ketemu saudara-saudara kita dari berbagai regional di Indonesia? Penasaran ya Kapten yang mana, Korwil Bandung ,Bogor,Samarida, Banjarmasin, Bali, Medan, Menado, Lampung, Medan yang mana? Pengurus Pusat mana aja sich? Atau pengen tau langsung yang selama ini cuman kenal di Twitter, FB, BBM group? Yok, ikutan Gatnas!

Kapan dan Dimana

Tanggal 27-28-28 September 2013

Di “Villa Taman Eden 1”, Jl. Astomulyo, Kaliurang, Yogyakarta.

Waktu Pendaftaran

13 Mei 2013 sampai dengan 27 Agustus 2013

Tata Cara dan Syarat Pendaftaran

1. Biaya Pendaftaran hanya Untuk Member FCBI yaitu Rp 300.000 
2. Ditransfer ke Bank Mandiri no.rek 900-00-1565898-3 a/n ABDURRAHMAN ALFARABI
3. Bukti transfer segera di kirim ke email: gathnas@fcbarcelona.web.id (sebagai bukti dan syarat pendaftaran).
4. Format untuk Pendaftaran Konfirmasi setelah melakukan Transfer

Diusahakan pendaftaran melalui kolektif di regional / kota asal. Jika kota / tempat tinggal anda belum memiliki `Regional FCBI dapat daftar secara individu.

a. Untuk Individu / Perseorangan

Bank – waktu transfer – Nomor Resi - Nama Lengkap – Ukuran Kaos – Regional – Nomer HP / Tlp

Contoh :

Mandiri – 11/05/2013 pukul 20.00 – 000.0001 – Roy Ambarita – M – FCBI.Reg.Semarang - 0812.2710.1899

Kirim konfirmasi ke email di atas dengan subject “Pendaftaran Gatnas 2013”.

b. Untuk Kolektif

Bank - waktu transfer - No Resi

Nama lengkap 1 – ukuran kaos – Nomer HP / Tlp

Nama lengkap 2 – ukuran kaos – Nomer HP / Tlp

Kirim konfirmasi ke email di atas dengan subject “Pendaftaran Gatnas 2013 Regional .... (sebutkan nama regionalnya).”

Contoh :

Mandiri - 11/05/2013 pukul 20.00 – 0101010

1. Roy Ambarita-M-081555777666

2. Yahya - S - 08563633637

3. Bayu Wibisono - L- 089911922933

Subject: Pendaftaran Gatnas 2013 FCBI Regional Semarang

5. Konfirmasi peserta yang telah mendaftar / transfer WAJIB Melalui Email .
6. Konfirmasi peserta yang membawa keluarga maksimal 3 Bulan Sebelum Acara / B-3
7. Untuk Peserta WAJIB LUNAS (Peserta Yang Terdaftar adalah Yang langsung melunasi Pembayaran / diharapkan konfirmasi daftar nya setelah Melalukan pelunasan).

Fasilitas

Kaos Gatnas 2013 Limited Edition
Syal (Scarf) Gatnas FCBIndonesia
Makan 5x
Snack&Coffe break 2x
Penginapan 3 hari 2 malam
Transportasi dari wilayah sekitar Jogja (bandara, stasiun, dan terminal) menuju lokasi acara

Acara

Tidak jauh beda dari tahun lalu, secara garis besar acaranya berikut:

Gathering
Fun games
Doorprize
Malam Keakraban
Bakti Sosial

Mengenai detil acara, diberitahukan kemudian.

So, tunggu apa lagi? Yok, nabung mulai sekarang dan ikuti Gathering Nasional FCBI 2013 di Yogyakarta.

Pendaftaran dan Info:

1. Obbie (Ketua Gatnas): 085229799020

2. Ucup (Sie Pendaftaran): 08812657472


Sekilas lokasi Gatnas:










Presented by FCB Indonesia