Like Us

Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Maret 2013

Cara Mengatasi Rasa Malu Dengan Cara Yang Benar dan Mudah


Beberapa saran yang diberikan oleh berbagai ahli hubungan tidak bekerja. Beberapa dari kita telah menemukan diri kita sendiri ternyata ‘gagal’ untuk mengikuti saran mereka dan kemudian bertanya-tanya, ‘Apa yang saya lakukan salah’. Tapi, yang cacat itu adalah sarannya, bukan kita.

Seringkali saran membuat asumsi dasar tentang sifat manusia yang melenceng. Jika asumsi dasar yang salah maka saran tidak akan bekerja, tidak peduli seberapa cerdas atau membantunya saran itu.

Banyak saran yang membuat asumsi bahwa apa yang memblok orang untuk menciptakan hubungan yang baik adalah kurangnya kepercayaan diri. Meskipun ada beberapa kebenaran dalam hal ini, saran terbuang setelah itu. Mereka menganggap ini semacam ‘ketakutan’, atau ‘kegelisahan’. Mereka menganggap ‘rasa malu’ hanyalah sebuah bentuk ketakutan. Itu tidak benar.


Apa yang ada di balik rasa malu bukanlah rasa ‘takut’, apa yang ada di balik rasa malu sebenarnya ‘rasa malu’. Rasa malu bukan rasa takut, tapi merupakan rasa’malu’. Rasa malu adalah perasaan rendah diri. Harga diri yang rendah akan sering menyamar sebagai ketakutan, kemarahan, kepahitan, dendam, dan sebagainya. Jika ini kasusnya, maka mencoba untuk mengatasi masalah (yakni sikap takut atau marah) tidak akan berhasil.

Mencoba untuk menangani ketidaksesuaian isu sebenarnya dapat merusak, karena kita dapat menjadi ‘gagal’ dan rasa harga diri tenggelam bahkan lebih rendah.

Ada sebuah contoh. Ini adalah saran yang diberikan oleh salah satu ahli terkemuka (yang biasanya memberikan nasihat yang baik) untuk mengatasi ‘takut di sekitar perempuan. Dia menyarankan bahwa laki-laki pergi ke pusat perbelanjaan lokal mereka dan berjalan ke setiap wanita menarik yang mereka lihat dan (setelah berbicara dengannya selama beberapa menit) meminta nomor teleponnya.

Nasihat ini akan terdengar sederhana, atau hanya mengerikan, tergantung pada apakah Anda seorang pria pemalu atau tidak. Hal ini seharusnya membantu pria mengatasi ketakutan. Namun, banyak pria pemalu akan membaca saran ini dan tahu bahwa mereka tidak bisa melakukannya. Rasa rendah harga diri akan menendang, mengisinya dengan kecemasan, dan memblokir mereka. Atau, mereka mungkin mencoba dan jatuh.

Mereka baru saja diberitahu bahwa ‘takut’ adalah akar dari masalah mereka. Kelihatannya ketakutan adalah masalah karena mereka merasa sangat gelisah bahkan ketika berpikir tentang bertindak sesuai nasihat, apalagi untuk mencobanya. Mereka kemudian diam-diam menganggap bahwa mereka adalah ‘pengecut’, karena tidak mampu mengatasi ketakutan mereka. Mereka akhirnya merasa benar-benar buruk tentang diri mereka sendiri.

Kehadiran kecemasan bukan berarti rasa takut adalah masalah! Rasa kecemasan hanyalah sebuah ‘peringatan ringan’ bahwa ada sesuatu yang lebih dalam. Ini adalah tanda bahwa bagian dari kita yang merasa terancam dan membutuhkan perlindungan. Dan, mungkin itu benar! Mungkin kita perlu mendengarkan dan mencari tahu …

Kecemasan sebenarnya merupakan bentuk kebijaksanaan. Daripada mencoba untuk menghancurkan jalan kita melalui itu, atau mencoba dan mengabaikannya, kita perlu berupaya sedikit.

Salah satu cara untuk mengelola situasi kita menemukan takut adalah dengan menggunakan imajinasi kita untuk bekerja di dalamnya sebelum mencobanya secara nyata.

Mulai:

1. Bayangkan diri Anda dalam situasi

2. Terima perasaan takut / cemas yang datang – tanpa mencoba untuk membuat mereka pergi.

3. Amati apakah ada perasaan malu, atau perasaan yang tidak layak dari apa yang Anda inginkan, atau bahwa Anda tidak memiliki hak untuk berhasil.

4. Bertanya pada diri sendiri jika ada hal yang perlu Anda lakukan untuk merasakan sedikit tidak takut dan lebih layak. (Jangan khawatir jika Anda menggambar kosong pada awalnya).

5. Membayangkan kemungkinan bahwa Anda bisa menemukan cara yang baik untuk menangani situasi. Apakah itu membantu? Jika tidak, tanyakan diri Anda apakah ada cara lain untuk mencapai hasil yang Anda inginkan.

6. Bagaimana perasaan Anda ketika Anda dapat menangani situasi seperti yang Anda ingin? Bagaimana itu membuat hidup Anda berbeda?

Ambil beberapa napas dalam-dalam dan kembali ke ‘Mulai’. Ulangi beberapa kali untuk melihat apa yang membantu Anda mengatasi rasa takut dan rasa malu.

Dalam melakukan ini, Anda mungkin menemukan bahwa proses tersebut tampaknya jalan di tempat, atau Anda mungkin menemukan bahwa ketakutan Anda hilang, Anda merasa hebat tentang diri Anda dan Anda tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Sebagian besar dari kita akan mengalami sesuatu di antara kedua hal ekstrem itu.

Dalam melakukan hal ini Anda membuat hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri – tidak peduli apa hasilnya. Anda memberi pesan halus untuk diri batin Anda yang Anda ingin berupaya dengan itu daripada berjuang dengan diri sendiri. Jika Anda menggunakannya beberapa kali, proses ini akan memungkinkan Anda untuk memasuki kebijaksanaan Anda sendiri dan membangun rasa harga diri. Hal ini pada gilirannya akan membantu Anda merasa lebih baik tentang diri Anda dan membuat Anda merasa lebih percaya diri dan rasa takut jauh lebih sedikit atau berkurangnya kecemasan dalam situasi sosial.

Dengan cara ini Anda dapat mengatasi rasa malu dan gejala ketakutan, kecemasan dan kurang percaya diri. Dengan cara ini Anda dapat mengatasi masalah yang sebenarnya.


Minggu, 10 Maret 2013

Manfaat Tersenyum, Mudah Tetapi Banyak Manfaatnya


Tersenyum merupakan sebuah reaksi kimiawi dalam tubuh dan juga berfungsi sebagai sinyal positif bahwa Anda sedang merasakan sesuatu yang membuat Anda senang. Setiap manusia pernah tersenyum dan sangat mudah untuk melakukannya. Selain dapat membahagiakan orang yang melihat seseorang tersenyum, tersenyum bisa memberikan banyak manfaat bagi mereka yang tersenyum. Apakah saja manfaat tersenyum? Yukkk Cekidot ...

1. Senyum membuat kita lebih menarik


Kita akan selalu tertarik pada orang yang selalu tersenyum. Orang yang selalu tersenyum punya daya tarik tersendiri. Wajah yang berkerut, cemberut, membuat orang menjauh dari kita , tetapi sebaliknya senyum bisa membuat mereka tertarik. 

2. Senyum mengubah mood kita


Ketika kita merasa jatuh atau “down” cobalah untuk tersenyum. Mungkin saja mood kita akan berubah menjadi lebih baik. 

3. Senyum dapat merangsang orang lain tersenyum


Ketika seseorang tersenyum maka senyum tersebut akan membuat suasana menjadi lebih cerah, mengubah mood orang lain yang ada disekitarnya dan membuat semua orang menjadi senang. Orang yang suka tersenyum membawa kebahagiaan buat orang yang ada di sekitarnya. Seringlah tersenyum maka Kamu akan disukai oleh banyak orang. 

4. Senyum dapat mengurangi stres


Jika tanda-tanda stres menyerang kamu, maka wajah Kamu sangat tidak enak untuk dipandang, sesegera mungkin untuk tersenyum karena senyum membantu mencegah kesan bahwa kita sebenarnya sedang stres, lelah atau merasa “down”. Jika Kamu sedang stres cobalah untuk tersenyum, maka stres Kamu akan berkurang dan Kamu akan merasa lebih baik untuk membuat langkah selanjutnya. 

5. Senyum meningkatkan sistem imun (kekebalan) tubuh


Senyum dapat membantu kerja imun tubuh agar dapat bekerja dengan baik. Ketika Kamu tersenyum, fungsi imun meningkatkan kemungkinan Kamu menjadi lebih rileks. 

6. Senyum menurunkan tekanan darah


Ketika Kamu tersenyum, maka tekanan darahmu akan menurun. Jika Kamu gak percaya, Kamu boleh mencobanya sendiri, jika Kamu memiliki alat pengukur tekanan darah di rumah. 

7. Senyum mengeluarkan endorphins (pereda rasa sakit secara alami) dan serotonin


Beberapa studi telah menunjukkan bahwa senyum dapat merangsang pengeluaran endorphin, pereda rasa sakit yang alami, serta serotonin. Senyum memang obat yang alami. 

8. Senyum dapat melenturkan kulit wajah dan membuat Kamu terlihat lebih muda


Otot-otot yang digunakan untuk tersenyum ikut membuat Kamu terlihat lebih muda. Jika Kamu ingin sesuatu yang beda, maka berikan senyummu sepanjang hari, maka Kamu akan terlihat lebih muda dan merasa lebih baik. Karena itu dapat Menghilangkan Jerawat juga.

9. Senyum membuat Kamu tampak sukses


Orang yang tersenyum terlihat lebih percaya diri dalam menjalani hidupnya. Cobalah tersenyum saat Kamu melakukan pertemuan dan saat ada janji. Rekan-rekan kerja, sahabat, orang-orang terdekat Kamu akan merasakan sesuatu yang berbeda dan sukses. 

10. Senyum membuat Kamu tetap positif


Senyumlah! Lalu sekarang cobalah berpikir sesuatu yang negatif tanpa berhenti tersenyum. Sulitkan? Karena ketika Kamu tersenyum maka senyum tersebut akan mengirimkan sinyal ke tubuh Kamu bahwa “hidup Kamu saat ini baik-baik saja”. 

Maka jauhkan diri Kamu dari depresi, stres dan rasa khawatir dengan satu kata yaitu "senyum", tentu saja dengan memberikan senyum pada tempat dan suasana yang tepat. Jika berlebihan, maka orang lain akan menganggap Kamu kurang waras.


Frustasi Dapat Menyebabkan Seseorang Tersenyum


Sebuah penelitian baru menemukan bahwa saat orang frustasi, mereka biasa tersenyum. Apakah Anda termasuk salah satu dari mereka? Ihsan Hoque, seorang peneliti dari Massachussets Institute of Technology, merancang sebuah program komputer yang dapat mengungkapkan perbedaan antara senyum kesenangan atau senyum dari bentuk frustasi.

Program tersebut dapat mengidentifikasi emosi penggunanya dan akan memberikan respon. Hasil penemuan ini diharapkan mampu membantu banyak tenaga profesional dalam memahami ekspresi orang autistik.

Penelitian ini diujicobakan oleh peneliti MIT Media Lab, para peserta diminta untuk mengeluarkan ekspresi kegembiraan atau frustasi, webcam kemudian akan merekam ekspresi mereka.

Pertama, para peserta diminta untuk mengikuti tes online yang dirancang untuk membuat mereka mengalami frustasi dan menonton video lucu untuk menciptakan respon kegembiraan.

Saat peserta diharuskan untuk pura-pura mengalami frustasi, 9 dari 10 peserta tidak tersenyum. Hal yang berbeda saat mereka benar-benar mengalami frustasi, sebanyak 90 persen dari mereka justru tersenyum.

“Penelitian ini mungkin menjadi awal pengetahuan untuk mengetahui hubungan senyuman dalam ekspresi emosi negatif. Ini menunjukkan pada kita bahwa tidak semua senyum bersifat positif,” papar Psikolog Prof Jeffrey Cohn, dari University of Pittsburgh, salah satu peneliti dalam studi tersebut, dikutip The Telegraph (28/5).


Sumber

Selasa, 26 Februari 2013

Ketakukan (Phobia) Yang Membuat Anda Tidak Nyaman Saat Berwisata


Anda punya phobia, atau ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu? Beberapa jenis phobia bisa menghalangi seseorang untuk menikmati momen traveling atau liburannya. Mulai dari ketakutan akan danau, kolam, hingga traveling itu sendiri! Ini dia beberapa phobia aneh yang membuat seseorang sulit bepergian, seperti dikutip dari Times of India.


1. Limnophobia


Jenis ketakutan yang berlebihan pada rawa-rawa, kolam atau apapun yang berada di dalam danau. Orang dengan phobia unik ini tentunya tidak bisa berwisata ke danau-danau indah di dunia, seperti Danau Toba di Sumatera Utara atau di Maine, Amerika Serikat yang memiliki kedalaman 316 kaki dan 10 mil panjangnya.


2. Nomophobia


Pengidap Nomophobia tidak akan bisa berlibur ke tempat-tempat terpencil yang tidak memiliki sinyal telepon atau internet. Karena mereka tidak bisa hidup tanpa ponsel atau jaringan internet. Wisata di gunung, pelosok desa atau tempat relaksasi yang melarang membawa ponsel tentunya tidak akan jadi pilihan bagi Nomophobia.

3. Cryophobia


Orang dengan Cryophobia mungkin tidak akan pernah bisa liburan ke tempat-tempat beriklim dingin karena takut akan udara dingin. Jadi akan sia-sia jika Anda mengajak pengidap Cryophobia untuk merasakan liburan musim dingin di Eropa, atau bahkan Gunung Salak di Bogor yang terkenal dengan udaranya yang dingin. Brrr!

4. Hodophobia


Pengidap phobia ini sepertinya sulit untuk merasakan nikmatnya liburan di waktu senggang. Hodophobia adalah ketakutan terhadap perjalanan atau liburan. Mereka bisa merinding atau tubuhnya bergetar jika memikirkan perjalanan panjang, jauh dan lama. Mereka tentunya tidak akan pernah mau melewati Dalton Highway di Alaska, yang merupakan rute terpanjang di dunia.


Sabtu, 23 Februari 2013

Cara Mengatasi Stres Dengan Langkah Yang Mudah

Gaya hidup sibuk kita penuh dengan kewajiban yang membebani pundak kita setiap hari, seperti tuntutan pekerjaan, komitmen keuangan, pendidikan, atau tanggung jawab menjaga keluarga. Kita sering mencemaskan hal yang paling umum dalam kehidupan kita sehari hari, namun begitu sulit untuk menemukan pengobatan untuk stres.


Stres adalah penyebab dari banyak penyakit, seperti insomnia, sindrom iritasi usus besar, kelelahan, hipertensi, alkoholisme atau depresi. Untungnya, ada banyak metode untuk mengobati stres sendiri, dari kenyamanan rumah Anda sendiri, dan tanpa membayar banyak uang untuk seorang profesional, atau menggunakan obat-obatan medis. Nah, bagaimana menyembuhkan stres dengan cara yang mudah? Berikut langkah-langkah yang harus dijalankan, cekidot gan ...

1. Mengidentifikasi penyebab stres dalam hidup Anda


Pengobatan untuk stres dimulai dengan menemukan akar masalah, sama seperti ketika Anda pergi ke dokter gigi dan mereka mencari tahu mengapa gigi Anda sakit.

Anda dapat melakukan ini sendiri. Hanya mengambil selembar kertas, dan tuliskan segala sesuatu dalam hidup Anda yang membuat Anda cemas dan tidak bahagia. Sejujur yang Anda bisa dan pasti sangat teliti. Jangan takut untuk menambahkan hal-hal seperti ‘mengantar anak-anak ke sekolah’ atau ‘mendengarkan masalah pekerjaan pasangan saya’. Ini tidak membuat Anda menjadi orang yang buruk. Untuk menyembuhkan stres, Anda perlu mulai pada sebuah perjalanan untuk mengenal diri sendiri dan perasaan batin Anda.

2. Temukan kekuatan dan kehendak kuat untuk melakukan perubahan


Setelah Anda telah mengidentifikasi segala sesuatu dalam hidup Anda yang memicu stres, buat keputusan untuk mulai perjalanan membuat perubahan yang diperlukan untuk memperbaiki hidup Anda dari hari ini. Anda tidak perlu sendirian dalam hal ini. Bicarakan dengan keluarga dan teman-teman, dan mencari dukungan dan saran.

3. Menjadi proaktif dalam pengobatan Anda untuk stres


Mulai bertindak untuk menghilangkan stres dalam hidup Anda hari ini. Jika stres Anda terkait kerja, pertimbangkan untuk mengambil liburan atau bahkan ganti pekerjaan. Untuk masalah hubungan, cobalah untuk membicarakannya dengan pasangan Anda dan mencari solusi bersama. Kadang-kadang berbicara tentang masalah sensitif di atas tempat tidur dapat melakukan keajaiban.

Berurusan dengan stres adalah sesuatu yang harus kita lakukan setiap hari. Sayangnya, kehidupan terus melemparkan tantangan, dan kita harus menemukan kekuatan dan kemauan untuk mengatasi mereka semua, sementara tetap sehat dan bahagia. Ambil langkah-langkah kecil setiap hari dalam membuat hal-hal yang lebih baik dalam hidup Anda, sehingga ketika tantangan berikutnya datang, Anda lebih kuat dan siap.

4. Pengendalian diri dan meditasi


Masalah kecemasan sering disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk menangani masalah. Inilah sebabnya mengapa sangat penting untuk melatih pengendalian diri dan meditasi secara teratur. Di antara beberapa teknik manajemen stres terbaik adalah berolahraga, berlatih yoga, mendengarkan musik, memasak, tertawa atau hanya bersantai.

5. Lawan stres dengan senyum


Hanya ada satu pengobatan ampuh untuk stres, dan itu adalah kekuatan menjalani hidup dengan senyum di wajah Anda, tidak peduli seberapa keras segala sesuatunya. Para ahli berpikir bahwa tertawa merupakan salah satu kegiatan paling sehat yang bisa dilakukan, yang menciptakan perisai terhadap masalah dalam hidup.


Bonus Biar Gak Tambah Stress












Kamis, 21 Februari 2013

Konsep Diri (Self Concept)


A. Pengertian Konsep Diri 

Konsep diri merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan dalam komunikasi antar pribadi. Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positif. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang, karena konsep diri dapat dianalogikan sebagai suatu operating sistem yang menjalankan suatu komputer. 

Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.

Seperti yang dikemukakan Hurlock (1990) memberikan pengertian tentang konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi. 


Konsep diri juga diartikan semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart dan Sudeen, 1998). Hal ini temasuk persepsi individu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya. Sedangkan menurut Beck, Willian dan Rawlin (1986) menyatakan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional intelektual , sosial dan spiritual. 

menurut Burns (1993) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu (Mulyana, 2000).


B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri


Menurut Stuart dan Sudeen ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri. Faktor-foktor tersebut terdiri dari teori perkembangan, Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat) dan Self Perception (persepsi diri sendiri), untuk lebih jelasnya mari kita baca lebih lanjut tentang “Faktor yang mempengaruhi Konsep Diri” berikut ini: 

1. Teori perkembangan
Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata. 

2. Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat)
Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri merupakan interprestasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan sosialisasi. 

3. Self Perception (persepsi diri sendiri)
Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. Sehingga konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat berfungsi lebih efektif yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang terganggu.


C. Komponen Konsep Diri


Konsep Diri terdiri dari beberapa aspek, yaitu : 

1. Citra Tubuh 

Citra tubuh adalah persepsi seseorang tentang tubuh, baik secara internal maupun eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditujukan pada tubuh. Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang karakteristik dan kemampuan fisik serta persepsi dari pandangan orang lain (Perry & Potter, 2005). Konsep diri yang baik tentang citra tubuh adalah kemampuan seseorang menerima bentuk tubuh yang dimiliki dengan senang hati dan penuh rasa syukur serta selalu berusaha untuk merawat tubuh dengan baik. 

2. Diri Ideal 

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia seharusnya bertingkah laku berdasarkan standar pribadi. Standar dapat berhubungan dengan tipe orang yang diinginkan atau sejumlah inspirasi, tujuan, nilai yang diraih. Ideal diri akan mewujudkan cita- cita atau pengharapan diri berdasarkan norma-norma sosial di masyarakat tempat individu tersebut melahirkan penyesuaian diri. Seseorang yang memiliki konsep diri yang baik tentang ideal diri apabila dirinya mampu bertindak dan berperilaku sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya dan sesuai dengan apa yang diinginkannya.

3. Harga Diri 

Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisis seberapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan ideal dirinya. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain yaitu dicintai, dihormati dan dihargai. Individu akan merasa harga dirinya tinggi bila sering mengalami keberhasilan, sebaliknya individu akan merasa harga dirinya rendah bila sering mengalami kegagalan, tidak dicintai atau diterima lingkungan. Pada masa dewasa akhir timbul masalah harga diri karena adanya tantangan baru sehubungan dengan pensiun, ketidakmampuan fisik, brepisah dari anak, kehilangan pasangan dan sebagainya (Suliswati, dkk, 2005). Seseorang memiliki konsep diri yang baik berkaitan dengan harga diri apabila mampu menunjukkan keberadaannya dibutuhkan oleh banyak orang, dan menjadi bagian yang dihormati oleh lingkungan sekitar. 

4. Peran Diri

Peran adalah serangkaian pola sikap perilaku, nilai dan tujuan yang diharapkan oleh masyarakat dihubungkan dengan fungsi individu didalam kelompok sosialnya. Peran memberikan sarana untuk berperan serta dalam kehidupan sosial dan merupakan cara untuk menguji identitas dengan memvalidasi pada orang yang berarti (Suliswati, dkk, 2005). Individu dikatakan mempunyai konsep diri yang baik berkaitan dengan peran adalah adanya kemampuan untuk berperan aktif dalam lingkungan, sekaligus menunjukkan bahwa keberadaannya sangat diperlukan oleh lingkungan.

5. Identitas Diri 

Identitas diri adalah kesadaran tentang diri sendiri yang dapat diperoleh dari observasi dan penilaian terhadap dirinya, menyadari individu bahwa dirinya berbeda dengan orang lain. Identitas diri merupakan sintesis dari semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh, tidak dipengaruhi oleh pencapaian tujuan, atribut atau jabatan serta peran. Seseorang yang memiliki perasaan identitas diri yang kuat akan memandang dirinya berbeda dengan orang lain, dan tidak ada duanya. Kemandirian timbul dari perasaan berharga, kemampuan dan penguasaan diri. Dalam identitas diri ada otonomi yaitu mengerti dan percaya diri, respek terhadap diri, mampu menguasai diri, mengatur diri dan menerima diri (Suliswati, dkk, 2005).


D. Konsep Diri Positif 


Menurut Brooks dan Emmart (1976), orang yang memiliki konsep diri positif menunjukkan karakteristik sebagai berikut: 

1. Merasa mampu mengatasi masalah. Pemahaman diri terhadap kemampuan subyektif untuk mengatasi persoalan-persoalan obyektif yang dihadapi. 

2. Merasa setara dengan orang lain. Pemahaman bahwa manusia dilahirkan tidak dengan membawa pengetahuan dan kekayaan. Pengetahuan dan kekayaan didapatkan dari proses belajar dan bekerja sepanjang hidup. Pemahaman tersebut menyebabkan individu tidak merasa lebih atau kurang terhadap orang lain. 

3. Menerima pujian tanpa rasa malu. Pemahaman terhadap pujian, atau penghargaan layak diberikan terhadap individu berdasarkan dari hasil apa yang telah dikerjakan sebelumnya. 

4. Merasa mampu memperbaiki diri. Kemampuan untuk melakukan proses refleksi diri untuk memperbaiki perilaku yang dianggap kurang. 


E. Konsep Diri Negatif


Seseorang yang memiliki konsep diri ngetaif cenderung menunjukkan karakteristik seperti berikut ini : 

1. Peka terhadap kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya dan mudah marah atau naik pitam, hal ini berarti dilihat dari faktor yang mempengaruhi dari individu tersebut belum dapat mengendalikan emosinya, sehingga kritikan dianggap sebagi hal yang salah. Bagi orang seperti ini koreksi sering dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Dalam berkomunikasi orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai logika yang keliru. 

2. Responsif sekali terhadap pujian. Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian. Buat orang seperti ini, segala macam embel-embel yang menjunjung harga dirinya menjadi pusat perhatian. Bersamaan dengan kesenangannya terhadap pujian, merekapun hiperkritis terhadap orang lain. 

3. Cenderung bersikap hiperkritis. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan siapapun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain. 

4. Cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan, karena itulah ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan, berarti individu tersebut merasa rendah diri atau bahkan berperilaku yang tidak disenangi, misalkan membenci, mencela atau bahkan yang melibatkan fisik yaitu mengajak berkelahi (bermusuhan). 

5. Bersikap psimis terhadap kompetisi. Hal ini terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia akan menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.

Selasa, 19 Februari 2013

Prasangka Sosial (Prejudice), Diskriminasi dan Stereotip


A. Pengertian Prasangka Sosial
Prasangka sosial merupakan sikap perasaan orang-orang terhadap golongan manusia tertentu, golongan ras atau kebudayaan yang berbeda dengan golongan orang yang berprasangka itu. Menurut David O. Sears dan kawan-kawan (1991), prasangka sosial adalah penilaian terhadap kelompok atau seorang individu yang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok tersebut, artinya prasangka sosial ditujukan pada orang atau kelompok orang yang berbeda dengannya atau kelompoknya. Prasangka sosial memiliki kualitas suka dan tidak suka pada obyek yang diprasangkainya, dan kondisi ini akan mempengaruhi tindakan atau perilaku seseorang yang berprasangka tersebut. 

Prasangka sosial (Manstead dan Hewstone, 1996) juga didefinisikan sebagai suatu keadaan yang berkaitan dengan sikap-sikap dan keyakinan-keyakinan. Yaitu, ekspresi perasaan negatif, penunjukkan sikap bermusuhan atau perilaku diskriminatif terhadap anggota kelompok lain. Beberapa kasus tertentu yang berhubungan dengan tindakan seksisme dan rasisme juga dianggap sebagai prasangka. Prasangka sosial yang pada mulanya hanya merupakan sikap-sikap perasaan negatif itu, lambat-laun menyatakan dirinya dalam tindakan-tindakan yang diskriminatif terhadap orang-orang yang termasuk golongan yang diprasangkai itu, tanpa terdapat alasan-alasan yang objektif pada pribadi orang yang dikenakan tindakan-tindakan diskriminatif. Prasangka ini dapat bersumber dari dorongan sosiopsikologis, proses-proses kognitif, dan pengaruh keadaan sosiokultural terhadap individu dan kelompoknya (Manstead dan Hewstone, 1996).

Allport, (dalam Zanden, 1984) menguraikan bahwa prasangka social merupakan suatu sikap yang membenci kelompok lain tanpa adanya alasan yang objektif untuk membenci kelompok tersebut. Selanjutnya Kossen, (1986) menguraikan bahwa prasangka sosial merupakan gejala yang interen yang meminta tindakan pra hukum, atau membuat keputusan-keputusan berdasarkan bukti yang tidak cukup. Dengan demikian bila seseorang berupaya memahami orang lain dengan baik maka tindakan prasangka sosial tidak perlu terjadi.

Prasangka merupakan sebuah tipe khusus dari sikap yang cenderung kearah negatif sehingga konsekuensinya:
Berfungsi sebagai skema (kerangka pikir kognitif untuk mengorganisasi, menginterpretasi dan mengambil informasi) yang mempengaruhi cara memproses informasi.
Melibatkan keyakinan dan perasaan negatif terhadap orang yang menjadi anggota kelompok sasaran prasangka.

Prasangka juga bisa disebut sebagai evaluasi kelompok atau seseorang yang mendasarkan diri pada keanggotaan dimana seorang tersebut menjadi anggotanya, prasangka merupakan evaluasi negatif terhadap outgroup. Prasangka sosial merupakan sikap perasaan orang-orang terhadap golongan manusia tertentu, golongan , ras, atau kebudayaan yang berlainan dengan golongan orang yang berprasangka itu. Prasangka sosial yang terdiri dari attitude-attitude sosial yang negatif terhadap golongan lain, dan mempengaruhi tingkah lakunya terhadap golongan manusia lain tadi.

Prasangka sosial pada awalnya hanya merupakan sikap-sikap perasaan negati yang lambat-laun menyatakan dirinya dalam tindakan-tindakan diskriminatif terhadap orang-orang yang termasuk golongan-golongan yang diprasangkai itu tanpa adanya alasan-alasan yang objektif pada pribadi orang yang dikenai tindakan-tindakan diskriminatif.


Tindakan-tindakan diskriminatif itu terbagi menjadi dua, diantaranya:

1. Diskriminasi kasar—aksi negatif terhadap objek prasangka rasial, etnis, atau agama—dan kriminalitas berdasarkan kebencian (hate crimes)—kriminalitass yang berdasar pada prasangka rasial, etnis, dan tipe prasangka lainnya. Contoh: James Byrd seorang lelaki afro-amerika yang diseret dibelakang truk hingga meninggal oleh seorang laki-laki berkulit putih dengan prasangka tinggi.

2. Diskriminasi halus: rasisme modern (rasial implicit)—rasisme berusaha menutup-nutupi prasangka di tempat umum, tetapi mengekspresikan sikap-sikap mengecam ketika hal itu aman dilakukan—dan tokenisme—contoh di mana individu menunjukkan tingkah laku positif yang menipu terhadap anggota kelompok out-group kepada siapa mereka merasakan prasangka yang kuat. Kemudian tingkah laku tokenistic ini digunakan sebagai alasan untuk menolak melakukan aksi yang lebih menguntungkan terhadap kelompok ini. Contoh: sebuah bank yang mempekerjakan orang dari etnis tertentu, supaya tidak disangka melakukan diskriminasi juga mempekerjakan masyarakat pribumi. Namun, masyarakat pribumi ini nantinya akan dipersulit untuk kenaikan jabatan.

B. Ciri-Ciri Prasangka Sosial
Ciri-ciri prasangka sosial menurut Brigham (1991) dapat dilihat dari kecenderungan individu untuk membuat kategori sosial (social categorization). Kategori sosial adalah kecenderungan untuk membagii dunia sosial menjadi dua kelompok, yaitu“kelompok kita” ( in group ) dan “kelompok mereka” (out group). In group adalah kelompok sosial dimana individu merasa dirinya dimiliki atau memiliki (“kelompok kami”). Sedangkan out group adalah grup di luar grup sendiri (“kelompok mereka”). Timbulnya prasangka sosial dapat dilihat dari perasaanin group dan out group yang menguat. Ciri-ciri dari prasangka sosial berdasarkan penguatan perasaan in group dan out group adalah:

1. Proses Generalisasi Terhadap Perbuatan Anggota Kelompok Lain.

Menurut Ancok dan Suroso (1995), jika ada salah seorang individu dari kelompok luar berbuat negatif, maka akan digeneralisasikan pada semua anggota kelompok luar. Sedangkan jika ada salah seorang individu yang berbuat negatif dari kelompok sendiri, maka perbuatan negaitf tersebut tidak akan digeneralisasikan pada anggota kelompok sendiri lainnya.

2. Kompetisi Sosial

Kompetisi sosial merupakan suatu cara yang digunakan oleh anggota kelompok untuk meningkatkan harga dirinya dengan membandingkan kelompoknya dengan kelompok lain dan menganggap kelompok sendiri lebih baik daripada kelompok lain.

3. Penilaian Ekstrim Terhadap Anggota Kelompok Lain

Individu melakukan penilaian terhadap anggota kelompok lain baik penilaian positif ataupun negatif secara berlebihan. Biasanya penilaian yang diberikan berupa penilaian negatif.

4. Pengaruh Persepsi Selektif dan Ingatan Masa Lalu

Pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu biasanya dikaitkan dengan stereotipe. Stereotipe adalah keyakinan (belief) yang menghubungkan sekelompok individu dengan ciri-ciri sifat tertentu atau anggapan tentang ciriciri yang dimiliki oleh anggota kelompok luar. Jadi, stereotipe adalah prakonsepsi ide mengenai kelompok, suatu image yang pada umumnya sangat sederhana, kaku, dan klise serta tidak akurat yang biasanya timbul karena proses generalisasi. Sehingga apabila ada seorang individu memiliki stereotype yang relevan dengan individu yang mempersepsikannya, maka akan langsung dipersepsikan secara negatif.

5. Perasaan Frustasi (Scope Goating)

Menurut Brigham (1991), perasaan frustasi (scope goating) adalah rasa frustasi seseorang sehingga membutuhkan pelampiasan sebagai objek atas ketidakmampuannya menghadapi kegagalan. Kekecewaan akibat persaingan antar masing-masing individu dan kelompok menjadikan seseorang mencari pengganti untuk mengekspresikan frustasinya kepada objek lain. Objek lain tersebut biasanya memiliki kekuatan yang lebih rendah dibandingkan dengan dirinya sehingga membuat individu mudah berprasangka.

6. Agresi Antar Kelompok

Agresi biasanya timbul akibat cara berpikir yang rasialis, sehingga menyebabkan seseorang cenderung berperilaku agresif.

7. Dogmatisme

Dogmatisme adalah sekumpulan kepercayaan yang dianut seseorang berkaitan dengan masalah tertentu, salah satunya adalah mengenai kelompok lain. Bentuk dogmatisme dapat berupa etnosentrisme dan favoritisme. Etnosentrisme adalah paham atau kepercayaan yang menempatkan kelompo sendiri sebagai pusat segala-galanya. Sedangkan, favoritisme adalah pandangan atau kepercayaan individu yang menempatkan kelompok sendiri sebagai yang terbaik, paling benar, dan paling bermoral.


C. Sumber-Sumber Prasangka Sosial
Penyebab pendorong muncul prasangka sosial sebagai berikut:

1. Untuk meningkatkan citra diri/konsep diri/harga diri. Prasangka dapat memainkan sebuah peran penting untuk melindungi atau meningkatkan konsep diri mereka. Ketika individu dengan sebuah prasangka memandang rendah sebuah kelompok, hal ini membuat mereka yakin akan harga diri mereka sendiri.

2. Menghemat usaha kognitif (prinsip heuristic). Ketika stereotip terbentuk, kita tidak perlu melakukan proses berpikir yang hati-hati dan sistematis, karena kita sudah “tahu” seperti apa anggota kelompok ini.

3. Attitude yang diperoleh dari lingkungan dimana manusia itu berkembang.

4. Bergaul dengan orang yang telah berprasangka sosial.

5. Karena kekurangan pengetahuan/wawasan dan pengertian akan fakta-fakta kehidupan yang sebenarnya dari golongan-golongan orang yang dikenai stereotip-stereotip.

6. Faktor kepentingan perseorangan atau golongan tertentu yang akan memperoleh keuntungan.

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Timbulnya Prasangka Sosial
Watson dan Trigerthan (1984) menerangkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya prasangka sosial, yaitu:

1. Norma, yaitu standar prilaku individu di dalam keadaan tertentu. Hal ini dapat menjelaskan bahwa orang itu berprasangka bukan karena keadaan dirinya tetapi semata-mata individu konform terhadap norma yang berlaku dalam lingkungan sosialnya. Selain itu seseorang berprasangka karena normanya menuntut individu tersebut untuk berprasangka. 

2. Peranan media massa, mempunyai arti besar dalam mendukung terjadinya prasangka sosial. 
Faktor kognitif dalam prasangka sosial, yaitu cara berfikir seseorang yang negatif terhadap orang lain atau kelompok tertentu dapat menimbulkan prasangka sosial. 

3. Adanya perasaan in-group dan out-group, yaitu rasa memiliki yang berlebihan terhadap kelompoknya sehingga menimbulkan sikap yang berbeda terhadap individu lain di luar kelompoknya.


E. Stereotipe
Prasangka sosial ini bergandengan pula dengan stereotipe. Istilah ini mengacu pada suatu gambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang golongan lain yang bercorak negatif. Dalam The Blackweel Encyclopedia of Social Psychology (Manstead dan Hewstone, 1996) stereotipe didefinisikan sebagai keyakinan-keyakinan tentang karakteristik seseorang (ciri kepribadian, perilaku, nilai pribadi) yang diterima sebagai suatu kebenaran kelompok sosial. Sebagai contoh, orang Italia itu romantis, wanita kurang bisa mengendarai mobil, seorang homoseks memiliki pandangan politik yang liberal, dan lain-lain. Stereotipe etnik itu sendiri merupakan keyakinan-keyakinan yang dilekatkan pada komunitas etnik lain yang dianggap sebagai kebenaran turun-temurun dan selalu terdapat dalam diri komunitas tersebut. Misalnya, sifat dan watak semua orang Negro adalah bodoh, kurang ajar, dan tidak berperadaban. Atau, banyak orang yang menganggap bahwa orang Madura memiliki temperamen keras dan kasar dalam berinteraksi secara sosial dengan orang lain, cenderung tidak peduli dengan orang lain, dan sebagainya.

Stereotip adalah proses kognitif, bukan emosional. Stereotip tidak selalu mengarah pada tindakan yang sengaja dilakukan untuk melecehkan. Seringkali stereotip hanyalah sebuah teknik yang kita gunakan untuk menyederhanakan dalam melihat dunia. Namun bagaimanapun juga, stereotipe tidak boleh membutakan manusia dalam melihat perbedaan-perbedaan individual yang ada, karena bila demikian bersifat maladaptif, tidak adil, dan berpotensial untuk menjadi sesuatu yang melecehkan.

Stereotip mengenai orang lain sudah terbentuk pada orang yang berprasangka sebelum ia mempunyai kesempatan untuk bergaul sewajarnya dengan orang-orang lain yang dikenai prasangka itu. Biasanya, stereotip terbentuk padanya berdasarkan keterangan-keterangan yang kurang lengkap dan subjektif. Stereotip mempunyai beberapa karakteristik pokok yang membedakannya dengan prasangka, antara lain:

1. Stereotip didasarkan pada penafsiran yang kita hasilkan atas dasar cara pandang dan latar belakang budaya kita. Stereotip juga dihasilkan dari komunikasi kita dengan pihak-pihak lain, bukan dari sumbernya langsung. Karenanya interpretasi kita mungkin salah, didasarkan atas fakta yang keliru atau tanpa dasar fakta.

2. Stereotip seringkali diasosiasikan dengan karakteristik yang bisa diidentifikasi. Ciri-ciri yang kita identifikasi seringkali kita seleksi tanpa alasan apapun. Artinya bisa saja kita dengan begitu saja mengakui suatu ciri tertentu dan mengabaikan ciri yang lain.

3. Stereotip merupakan generalisasi dari kelompok kepada orang-orang di dalam kelompok tersebut. Generalisasi mengenai sebuah kelompok mungkin memang menerangkan atau sesuai dengan banyak individu dalam kelompok tersebut.


F. karakteristik Orang Yang Berprasangka
Ciri-ciri pribadi orang berprasangka bisa dilihat sebagai berikut:

1. Orang-orang yang berciri tidak toleransi

2. Kurang mengenal akan dirinya sendiri

3. Kurang berdaya cipta

4. Tidak merasa aman

5. Memupuk khayalan-khayalan agresif


G. Cara Mengurangi Prasangka Sosial
Pettigrew dan Tropp (dalam Aronson, 2007) mengatakan bahwa kontak antar ras merupakan hal yang baik. Dalam kenyataannya, kontak tidak selalu dapat mengurangi prasangka. Berdasarkan penelitian dan eksperimen yang dilakukan oleh Sherif, dkk (1961) terhadap kamp anak laki-laki, di mana dua kubu (EaKles dan Rattlers) saling bersaing, terdapat enam kondisi dalam kontak yang dapat mengurangi prasangka: Peneliti menempatkan dua kubu yang bersaing dalam suatu keadaan yang membuat mereka saling tergantung satu sama lain (mutual interdependence) (Kondisi pertama) untuk mencapai tujuan tertentu (Kondisi kedua). Contohnya, peneliti membuat sebuah keadaan darurat dengan merusak sistem suplai air. Satu-satunya cara untlik menyelesaikan masalah ini adalah dengan bersatunya Eagles dan Rattlers.

Kondisi ketiga, ketika status individu berbeda, interaksi atau kontak dapat berujung pada pola stereotype yang ada, seperti ketika bos berbicara pada pegawainya, maka sang bos akan berperilaku sesuai stereotip umum mengenai bos. Pada intinya, kontak seharusnya membuat orang belajar bahwa stereotype (khususnya stereotype negatif) mereka salah. Dengan kesetaraan status antar individu. tidak ada yang lebih berkuasa dibandingkan siapapun, dan prejudice pun dapat tereduksi (berkurang). Kondisi keempat, menempatkan dua kelompok yang berbeda dalam satu ruangan tidak dapat dengan mudah mengurangi prejudice karena masing-masing individu akan tetap terfokus pada kelompoknya. Individu dapat lebih mengenal dan memahami individu lainnya jika berada dalam keadaan one-to-one basis, dimana interaksi yang dilakukan lebih bersifat interpersonal. Melalui interaksi bersahabat dan informal dengan beberapa anggota out-group, individu dapat lebih memahami bahwa stereotip yang dipercayainya ternyata salah. Kondisi kelima, melalui persahabatan, interaksi informal dengan berbagai anggota (multiple members) out-group, seorang individu akan belajar bahwa keyakinan-nya tentang out-group adalah salah. Kondisi keenam, adanya norma yang mempromosikan dan mendukung kesetaraan di antara kelompok (Amir, 1969; Wilder, 1984). Norma sosial yang kuat, dapat dimanfaatkan untuk memotivasi orang untuk menjangkau anggota kelompok luar. Sebagai contoh, jika bos atau profesor menciptakan dan memperkuat norma penerimaan dan toleransi di tempat kerja atau di dalam kelas, anggota kelompok akan mengubah perilaku mereka agar sesuai norma tersebut.

berdasarkan paparan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan upaya-upaya untuk mengurangi prasangka sosial adalah dengan melakukan pendidikan dari ruang lingkup keluarga, pengetahuan yang dikemukakan secara objektif di sekolah-sekolah, menjauhkan orang/anak dari orang yang sudah memiliki prasangka sosial, media massa berperan secara aktif dan memberikan pengertian serta penjelasan secara gamblang akan kerugian-kerugian prasangka sosial kepada masyarakat secara keseluruhan.


Sumber : dari berbagai sumber

Senin, 18 Februari 2013

Strategi Coping



1. Pengertian Coping

Menurut Taylor (2009) coping didefenisikan sebagai pikiran dan perilaku yang digunakan untuk mengatur tuntutan internal maupun eksternal dari situasi yang menekan. Menurut Baron & Byrne (1991) menyatakan bahwa coping adalah respon individu untuk mengatasi masalah, respon tersebut sesuai dengan apa yang dirasakan dan dipikirkan untuk mengontrol, mentolerir dan mengurangi efek negatif dari situasi yang dihadapi. Menurut Stone & Neale (dalam Rice, 1992) coping meliputi segala usaha yang disadari untuk menghadapi tuntutan yang penuh dengan tekanan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa coping adalah segala usaha individu untuk mengatur tuntutan lingkungan dan konflik yang muncul, mengurangi ketidaksesuaian/kesenjangan persepsi antara tuntutan situasi yang menekan dengan kemampuan individu dalam memenuhi tuntutan tersebut.

2. Pengertian Strategi Coping


Menurut MacArthur & MacArthur (1999) mendefinisikan strategi coping sebagai upaya-upaya khusus, baik behavioral maupun psikologis, yang digunakan orang untuk menguasai, mentoleransi, mengurangi, atau meminimalkan dampak kejadian yang menimbulkan stres.

Dodds (1993) mengemukakan bahwa pada esensinya, strategi coping adalah strategi yang digunakan individu untuk melakukan penyesuaian antara sumber-sumber yang dimilikinya dengan tuntutan yang

dibebankan lingkungan kepadanya. Secara spesifik, sumber-sumber yang memfasilitasi coping itu mencakup sumber-sumber personal (yaitu karakteristik pribadi yang relatif stabil seperti self-esteem atau keterampilan sosial) dan sumbersumber lingkungan seperti dukungan sosial dan keluarga atau sumber finansial (Harrington & Mcdermott, 1993). Friedman (1998) mengatakan bahwa strategi coping merupakan perilaku atau proses untuk adaptasi dalam menghadapi tekanan atau ancaman.

3. Klasifikasi dan Bentuk Coping

Flokman & Lazarus (dalam Sarafino, 2006) secara umum membedakan bentuk dan fungsi coping dalam dua klasifikasi yaitu :

a. Problem Focused Coping (PFC) adalah merupakan bentuk coping yang lebih diarahkan kepada upaya untuk mengurangi tuntutan dari situasi yang penuh tekanan. artinya coping yang muncul terfokus pada masalah individu yang akan mengatasi stres dengan mempelajari cara-cara keterampilan yang baru. Individu cenderung menggunakan strategi ini ketika mereka percaya bahwa tuntutan dari situasi dapat diubah (Lazarus & Folkman dalam Sarafino, 2006). Strategi ini melibatkan usaha untuk melakukan sesuatu hal terhadap kondisi stres yang mengancam individu (Taylor,2009).

b. Emotion Focused Coping (EFC) merupakan bentuk coping yang diarahkan untuk mengatur respon emosional terhadap situasi yang menekan. Individu dapat mengatur respon emosionalnya dengan pendekatan behavioral dan kognitif. Contoh dari pendekatan behavioral adalah penggunaan alkohol,narkoba, mencari ukungan emosional dari teman – teman dan mengikuti berbagai aktivitas seperti berolahraga atau menonton televisi yang dapat mengalihkan perhatian individu dari masalahnya. Sementara pendekatan kognitif melibatkan bagaimana individu berfikir tentang situasi yang menekan. Dalam pendekatan kognitif, individu melakukan redefine terhadap situasi yang menekan seperti membuat perbandingan dengan individu lain yang mengalami situasi lebih buruk, dan melihat sesuatu yang baik diluar dari masalah.

Individu cenderung untuk menggunakan strategi ini ketika mereka percaya mereka dapat melakukan sedikit perubahan untuk mengubah kondisi yang menekan (Lazarus & Folkman dalam Sarafino, 2006).

Pendapat di atas sejalan dengan Skinner (dalam Sarafino, 2006) yang mengemukakan pengklasifikasian bentuk coping sebagai berikut :

a. Perilaku coping yang berorientasi pada masalah (Problem-Focused Coping)

1). Planfull Problem Solving

Individu memikirkan dan mempertimbangkan secara matang beberapa alternatif pemecahan masalah yang mungkin dilakukan, meminta pendapat dan pandangan dari orang lain tentang masalah yang dihadapi, bersikap hati-hati sebelum memutuskan sesuatu dan mengevaluasi strategi yang pernah dilakukan.

2). Direct Action

Meliputi tindakan yang ditujukan untuk menyelesaikan masalah secara langsung serta menyusun secara lengkap apa yang diperlukan.

3). Assistance Seeking

Individu mencari dukungan dan menggunakan bantuan dari orang lain berupa nasehat maupun tindakan didalam menghadapi masalahnya.

4). Information Seeking

Individu mencari informasi dari orang lain yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan individu tersebut.

b. Perilaku coping yang berorientasi pada emosi (Emotional Focused Coping)

1). Avoidance

Individu menghindari masalah yang ada dengan cara berkhayal atau membayangkan seandainya ia berada pada situasi yang menyenangkan.

2). Denial

Individu menolak masalah yang ada dengan menganggap seolah-olah masalah individu tidak ada, artinya individu tersebut mengabaikan masalah yang dihadapinya.

3). Self-Criticism

Keadaan individu yang larut dalam permasalahan dan menyalahkan diri sendiri atas kejadian atau masalah yang dialaminya.

4). Possitive Reappraisal

Individu melihat sisi positif dari masalah yang dialami dalam kehidupannya dengan mencari arti atau keuntungan dari pengalaman tersebut.

4. Faktor – faktor yang mempengaruhi strategi coping :


Menurut Mutadin (2002) cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan oleh sumber daya individu yang meliputi :

a. Kesehatan Fisik

Kesehatan merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar.

b. Keyakinan atau pandangan positif

Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting, seperti keyakinan akan nasib (external locus of control) yang mengerahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan (helplessness) yang akan menurunkan kemampuan strategi coping.

c. Keterampilan memecahkan masalah

Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat.

d. Keterampilan sosial

Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dimasyarakat.

e. Dukungan sosial

Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya.

f. Materi

Dukungan ini meliputi sumber daya berupa uang, barang-barang atau layanan yang biasanya dapat dibeli.

Salah satu faktor yang mempengaruhi strategi coping adalah dukungan sosial yang meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga lain, saudara, teman, rekan kerja dan lingkungan masyarakat sekitarnya (Mutadin, 2002). Individu yang saling mendukung satu sama lain akan terdapat rasa hubungan kemasyarakatan serta hubungan antara perseorangan. Dalam lingkungan kerja, individu yang mampu membina hubungan baik dengan atasan, sesama rekan kerja dan bawahan dapat saling memberi dukungan sehingga dapat tercipta rasa memiliki dan integrasi sosial dalam lingkungan kerja. Dengan adanya dukungan sosial dalam lingkungan kerja maka dapat membuat individu merasa bagian dari suatu tim dan tidak diisolasi dari kelompok. Hal ini merupakan salah satu dari kriteria yang membentuk kualitas kehidupan bekerja dalam organisasi (Walton dalam Kossen, 1987).