Like Us

Tampilkan postingan dengan label Seks Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seks Bebas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Februari 2013

Seks Bebas Menurut Perspektif Psikologi



Hasil  penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Bahayanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum , tampaknya berkembang semakin serius. Penelitian yang dilakukan Dr Boyke, pada tahun 1999 lalu terhadap pasien yang datang ke Klinik Pasutri, tercatat sekitar 18 persen remaja pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).



Kenyataan ini, tentunya tidak bisa kita biarkan, harus ada upaya-upaya yang integrative untuk menangani dan mencegah munculnya kasus-kasus seks bebas, mengingat dampakny yang sangat membahayakan bagi diri,masyarakat dan keberlangsungannya suatu generasi. Mengapa kasus free sex lebih banyak terjadi dikalangan remaja?

Dinamika Munculnya Prilaku Seks Bebas dan Penyebabanya

Masa remaja adalah masa penuh perubahan. Semuanya seakan tidak stabil Dan membingungkan, bahkan bagi si remaja sendiri. Perubahan yang paling mudah di lihat, tentu saja adalah perubahan fisik terutama berkembangnya fungsi-fungsi organis dan psikis. Tinggi badan bertambah pesat, bentuk badan berubah, yang laki-laki tumbuh kumis, jakun, mengalami mimpi basah, sementara yang perempuan tumbuh payudara dan mengalami menstruasi. Proses organis yang paling penting pada masa pubertas ialah kematangan seksual.
Disisi lain, remaja umumnya kurang mengenali organ tubuhnya. Tidak sedikit di antara mereka yang bertanya pada teman sebaya tentang perubahan fisik yang dialami. Dan tidak sedikit pula diantaranya yang terjebak informasi salah. . Seksualitas menjadi hal yang sangat menarik perhatian remaja, karena pada saat remaja perangkat seksualnya telah berkembang pesat dan dorongan seksualpun menjadi hal yang sangat akrab bagi kehidupan remaja. Pada saat itu, remaja butuh informasi dan pengetahuan atas semua yang terjadi.

Menurut  Guntoro Utamadi, Psikolog yang juga pengasuh rubik Curhat di harian Kompas, tingkat Pemahaman remaja yang dipengaruhi mitos-mitos lingkungan sekitar, khususnya dari teman sebaya dapat membahayakan perkembangan mental remaja bila tidak segera didampingi oleh orang yang dipandang tepat memberi informasi yang benar. Pemahaman remaja terhadap resiko perilaku yang mereka lakukan seringkali sangat minim. Mereka merasa telah melakukan berbagai pencegahan dan antisipasi , akan tetapi sebenarnya yang mereka ketahui adalah informasi yang salah. Dan remaja perempuan, lebih rentan terhadap berbagai resiko dan berbagai kerugian dari perilaku seksual tersebut. Seperti, resiko kehamilan, aborsi, PMS, lebih banyak akan diderita oleh perempuan.


Tragisnya, banyak remaja perempuan yang tidak bisa mengatakan TIDAK melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Karena ada anggapan ini satu paket dalam berpacaran. Kalau tidak, mereka dianggap bukan anak gaul.Karena terpedaya oleh rayuan, ketakutan diputus pacarnya, sampai dengan ancaman dan paksaan membuat remaja perempuan menjadi beresiko lebih tinggi. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran terhadap tubuh sendiri dan pemahaman bahwa tubuhnya adalah miliknya dan bertanggung jawab, sangat diperlukan bagi remaja perempuan. Kemampuan berkata tidak yang sering kali berhubungan erat dengan rasa percaya diri, harus selalu dilatihkan. Remaja laki-laki juga harus sering diajak mengembangkan dorongan seksualnya dan menghormati perempuan.


Faktor lain, adalah bahwa masalah seks dengan pasangannya justru dijadikan legistimasi untuk melakukan seks bebas. Bahkan, saat ini, seks bebas sudah menjadi bagian dari budaya bisnis. Factor yang melatarbelakangi hal ini, menurut Boyke, antara lain disebabkan berkurangnya pemahaman nilai-nilai agama. Selain itu, juga disebabkan belum adanya pendidikan seks secara formal di sekolah-sekolah. Selain itu, juga maraknya penyebaran gambar serta VCD porno.

Peran media massa, diakui Maria Hartiningsih, wartawan senior Harian Kompas, mampu membentuk realitas dari kehidupan. Ketika menghadapi dorongan seks luar biasa, penyaluran yang dibayangkan remaja adalah hubungan seksual. Dan berbagai media yang menyalurkan minat mereka itu, tersedia di mana-mana dengan murahnya dan membawa remaja pada perilaku tidak benar.


Berdasarkan survey Pusat Studi Wanita Universitas Islam Indonesia (PSW-UII) Yogyakarta, jumlah remaja yang mengalami masalah kehidupan seks terutama di Yogyakarta terus bertambah, akibat pola hidup seks bebas. Mengapa demikian? karena pada kenyataannya pengaruh gaya seks bebas yang mereka terima jauh lebih kuat dari pada control yang mereka terima maupun pembinaan secara keagamaan. Selain itu, munculnya perilaku seks bebas di kalangan remaja yang marak belakangan ini tidak terlepas dari pengaruh era globalisasi, serta berkaitan erat dengan pengaruh Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya).

Dampak Prilaku Seks Bebas

Maraknya seks bebas di kalangan remaja membuat banyak pihak sangat prihatin. Salah satunya adalah Ketua Yayasan Sayap Ibu Daerah Istimewa Yogyakarta Ny Hj Ciptaningsih Utaryo. Pasalnya,  hal itu akan menimbulkan masalah baru bukan hanya bagi wanita remaja itu sendiri, tapi juga pada anak-anak yang akan dilahirkan. Terlebih anak yang lahir tersebut merupakan anak yang tidak dikehendaki, sehingga ada kecenderungan akan ditelantarkan orang tua.

Selain itu,tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara.

Menurut, Siswanto A Wilopo, sekjen IPADI dan Deputi KB dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Pusat, ada 15 juta perempuan remaja melahirkan anak dan sebagian dari mereka sudah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Setiap tahun, 500.000 perempuan meninggal dunia karena melahirkan dan lebih dari 65.000 diantaranya adalah remaja perempuan meninggal karena aborsi tidak aman.


Dari kasus konsultasi yang masuk ke PKBI, permasalahan remaja terutama yang berkaitan dengan seksualitas telah sedemikian jauh Dan mencapai tahap beresiko tinggi. Walaupun kasus-kasus seperti kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD), HIV, penyakit menular seksual (PMS), bahkan kasus terbanyak, akan tetapi jumlah remaja yang telah mengalami hal-hal tersebut telah mencakup dan membuat kita prihatin serta perlu waspada. Apalagi kalau kita menyadari kalau jumlah kasus yang muncul dan diketahui hanya merupakan fenomena gunung es, hanya tampak sedikit di permukaan, kalau kita lengah tiba-tiba semuanya sudah terlambat. Karena seringnya remaja dijadikan target, penularan virus HIV pada usia 14 – 20 tahun mencapai  60 persen sendiri karena suntikan (narkoba).

Penanganan

Penduduk usia 15-24 tahun adalah masa depan dunia. Kalau saja mereka berperilaku produktif dan terpuji akan menjadi maslahah (kebaikan) bagi bangsa. Namun bila sebaliknya, akan menjadi masalah bagi bangsa,” ungkap Rozy Munir, Ketua Umum IPADI (Ikatan Peminat dan Ahli Demografi Indonesia) saat berbicara dalam seminar Pengembangan SDM Menuju Penduduk Berkualitas memperingati hari Kependudukan Sedunia pada tanggal 11 Juli 2003 lalu di Auditorium BKKBN Jakarta.

Masalah remaja memang menentukan masa depan bangsa. Oleh karena itu, dalam peringatan hari kependudukan sedunia tahun ini mengambil tema “Kesehatan Remaja dan Seksualitas Remaja”. Saat ini , sekitar satu miliar penduduk usia remaja memasuki perilaku reproduksi yang dapat membahayakan atau justru mengancam kehidupannya.

Lalu, bagaimana sikap kita mengatasi permasalahan yang ada di kalangan remaja? “Berikan pemahaman yang jelas tentang masalah kesehatan reproduksi. Karena, sebagian besar remaja melakukan perilaku kehidupan reproduksi tidak sehat karena belum tahu benar pentingnya menjaga kesehatan reproduksi remaja,” tukas Siswanto (Sekjen IPADI).

Hal senada diungkapkan Dr Bernard Coquelin, representatif UNFPA (United Nations Population Fund), bahwa untuk menekankan tingginya jumlah penderita HIV pada remaja di dunia adalah dengan memberikan pendidikan, informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi. “Akan dikemanakan remaja kita, bila setiap hari ada 6.000 remaja baik laki-laki maupun perempuan terinveksi virus HIV. Ini menunjukkan bahwa mereka butuh informasi ini.”


Sebagian besar, remaja yang telah aktif secara seksual (baik yang berstatus kawin atau tidak) pada usia kurang dari 20 tahun, belum menyentuh pelayanan reproduksi (termasuk pelayanan kontrasepsi), pencegahan dan perawatan kesehatan seksual menular dan HIV/AIDS serta perawatan kehamilan dan persalinan. Sehingga, sudah saatnya di kalangan remaja diberikan suatu bekal pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar. Pendidikan Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi juga bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari percobaan melakukan seks bebas.

Hal lain yang diperlukan dalam menangani kasus-kasus seks bebas yang semakin marak adalah, dengan memberikan pemahaman yang tepat tentang seks. Pengetahuan  seks yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong remaja untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salah persepsi. Dalam kaitan dengan hubungan seksual, bisa diambil contoh ada remaja yang berpendapat, kalau hanya sekali bersetubuh, tidak bakal terjadi kehamilan. Atau, meloncat-loncat atau mandi sampai bersih segera setelah melakukan hubungan seksual bisa mencegah kehamilan.

Bagi sebagian orang, seks memang masih dianggap tabu dan konsumsi orang dewasa. Sehingga, berbicara mengenai seks harus secara pribadi. Padahal justru pada masa remaja, pendidikan seks harus dimulai diberikan. Pada masa ini mereka sedang mengalami perubahan organ-organ seks, baik primer maupun sekunder. Jika tidak diberikan pengetahuan yang cukup, ditakutkan malah salah arah. Alasan lain adalah, bahwa pengetahuan seks sangat penting dan bagaimanapun seks berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Jika konsep mengenai seks yang diterima salah, maka banyak akibat dan risikonya. Serta, penanganan aktivitas seks juga bisa tidak tepat.

Oleh karena itu, sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu definisi kata “seks” itu sendiri. Seks memang memiliki definisi yang luas. Namun, jika kita berbicara mengenai seks secara keseluruhan, maka yang dimaksudkan adalah pendidikan mengenai jenis kelamin.


Definisi seks, dapat dikelompokkan menurut beberapa dimensi, Di antaranya:

Dimensi Biologis
Berkaitan dengan alat reproduksi. Di dalamnya termasuk pengetahuan mengenai hormon-hormon, menstruasi, masa subur, gairah seks, bagaimana menjaga kesehatan dan gangguan seperti PMS (penyakit menular seksual), dan bagaimana menfungsikannya secara optimal secara biologis.

Dimensi Faal
Mencakup pengetahuan mengenai proses pembuahan, bagaimana ovum bertemu dengan sperma dan membentuk zigot dan seterusnya.

Dimensi Psikologis
Seksualitas berkaitan dengan bagaimana kita menjalankan fungsi kita sebagai mahluk seksual dan identitas peran jenis. Mengapa pria dipandang lebih agresif daripada wanita?

Dimensi Medis
Adalah pengetahuan mengenai penyakit yang di oleh hubungan seks, terjadinnya impotensi, nyeri, keputihan dan lain sebagainya.

Dimensi Sosial
Seksualitas berkaitan dengan hubungan interpersonal (hubungan antar sesama manusia). Seringkali, hambatan interaksi ditimbulkan oleh kesenjangan peran jenis antara laki-laki dan perempuan. Hal ini dipengaruhi oleh faktor budaya dan idola asuh yang lebih memprioritaskan posisi laki-laki. Anggapan tersebut harus diluruskan. karena jenis kelamin tidak menentukan mana yang lebih baik atau berkualitas.

Dari hasil survei oleh WHO tentang pendidikan seks membuktikan, pendidikan seks bisa mengurangi atau mencegah perilaku hubungan seks sembarangan, yang berarti pula mengurangi tertularnya penyakit-penyakit akibat hubungan seks bebas.  Dan, pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak azasi manusia serta nilai-nilai kultur dan agama sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.

Hanya yang jadi masalah hingga kini, Pendidikan seks di Indonesia masih mengundang kontroversi. Sekaliipun untuk tujuan pendidikan, anggapan tabu untuk berbicara soal seks masih menancap dalam benak sebagian masyarakat. Akibatnya, anak-anak yang berangkat remaja jarang yang mendapat bekal pengetahuan seks yang cukup dari ortu (orang tua). Padahal tidak jarang para remaja sendiri yang berinisiatif bertanya, tapi justru sering disambut dengan “kemarahan”. Untuk itu diperlukan pengertian dan pemahaman orang tua akan pentingnya hal tersebut diatas, sehingga ketika anaknya mulai memasuki masa puber dan berinteraksi dengan lawan jenisnya ia telah memperoleh pemahaman tentang rambu-rambu dalam bergaul.

Persentase Perilaku Seksual Remaja
 
Rataan Umur Pelaku Seks Bebas
Persentase Aktivitas Seks Bebas Remaja

Mari Perangi Seks Bebas Demi Masa Depan Yang Lebih Baik

Seks Bebas Menghantui Remaja Indonesia


Perilaku seks bebas tampaknya sudah menjadi hal biasa di kalangan remaja, khususnya pelajar dan mahasiswa. Baik itu atas dasar cinta ataupun motif ekonomi. Padahal, seringnya remaja melakukan perilaku seks bebas dapat menimbulkan resiko penyakit HIV&AIDS. 

Direktorat Pencegahan Penyakit Menular Langsung (P2ML), Kementerian Kesehatan RI, Jein Uktolseja, mengatakan, berdasarkan hasil penelitian kebanyakan pelajar khususnya SMA pernah melakukan seks bebas. Perilaku itu didasari berbagai alasan. 


“Bahkan, sekarang menjadi kenikmatan tersendiri bagi mereka sehingga ketagihan dan terus berulang” ujar Jein kepada Waspada Online, malam ini. 

Dalam penelitian itu, kata Jein, terungkap bahwa perilaku seks bebas dan narkoba menjadi lingkaran setan yang sangat sulit untuk diputuskan. Inilah yang menjadi kontribusi dalam menjadikan Indonesia sebagai negara tercepat dalam penularan HIV/AIDS.



"Saat ini akses terhadap materi pornografi semakin mudah, misalnya lewat internet atau telepon seluler, belum lagi pressure dari temannya, misalnya pendapat yang mengatakan kalau masih perawan berarti kuno. Hal ini sedikit banyak mendorong remaja melakukan seks pranikah," ujarnya.

Dalam hal ini, kata Jein, perlu adanya tindakan preventif dari pemerintah dan juga pengawasan dari orang tua untuk mengawasi anaknya. “Jangan sampai perilaku ini terus berulang, ini juga untuk menekan penyebaran virus HIV&AIDS, karena seks bebas merupakan jalan masuk terkena virus HIV&AIDS,”  pungkas Jein.




Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan selain narkoba dan HIV/AIDS, persoalan utama remaja Indonesia saat ini adalah seks bebas.

"Hal tersebut harus segera ditangani mengingat jumlah remaja terbilang besar yakni mencapai 26,7 persen dari total penduduk," kata Plt Kepala BKKBN Subagyo di Jakarta.

Subagyo menjelaskan, Penelitian Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) pada 2007 lalu menemukan perilaku seks bebas bukanlah sesuatu yang aneh dalam kehidupan remaja Indonesia.


Kementerian Kesehatan 2009 pernah merilis hasil penelitian di empat kota yakni Jakarta Pusat, Medan, Bandung, dan Surabaya yang menunjukkan sebanyak 35,9 persen remaja punya teman yang sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Bahkan, 6,9 persen responden telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah.

BKKBN, sebagai institusi yang mempunyai fungsi sosialisasi tentang pentingnya kesehatan reproduksi bagi remaja dalam upaya mempersiapkan kehidupan berkeluarga, ujarnya, terus meningkatkan berbagai program.



Program GenRe (Generasi Berencana) adalah salah satunya yang ditawarkan sebagai upaya edukasi. Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN Sudibyo Alimoeso menambahkan, BKKBN ingin menjadikan GenRe sebagai sebuah gaya hidup kalangan remaja sehingga dapat merencanakan keluarga yang berkualitas, dan bukan sebagai kewajiban untuk menekan angka kelahiran.

Banyaknya penderita penyakit kelamin yang disebabkan maraknya seks bebas di tengah-tengah masyarakat di Kota Medan ini, membuat psikolog angkat bicara. Menurut Dekan Psikologi Universitas Medan Area (UMA), Irna Minauli mengatakan tren hubungan bebas di kalangan remaja, menjadi sebuah perubahan sosial, karena perkembangan zaman. Namun, dia yakin, remaja bisa terhindar, jika di dalam ruang lingkup keluarga, sebagai yang terdekat, bisa memberikan norma-norma agama dengan baik.

“Kenyataannya, kontrol di tingkat rumah tangga, juga terabaikan, karena orangtua saat ini sangat sibuk dengan dunianya sendiri. Hendaknya, ketika, kita menjadi orang tua yang aktif di luar, tetap luangkan waktu untuk memberikan perhatian ke anak,” kata Minauli.

Dia menilai, ketika norma agama kental diajarkan, maka sejak dini anak akan berusaha tetap berada sesuai koridor yang ada atau di jalur yang benar. “Dan orang tua juga menjadi contoh, alangkah baiknya ketika kita memberikan nasehat ke anak, orang tua juga menjadi pribadi yang sesuai agar menjadi contoh yang baik didapat di rumah.

"Kita tidak bisa menyerahkan tanggung jawab anak hanya di tingkat sekolah, pokoknya selaku orangtua harus bisa menjaga anak-anaknya,” pungkasnya.


Ketagihan Seks Bebas
Seks Bebas Menghantui Remaja Indonesia
Seks Bebas Menunjukkan Perubahan Sosial

Pentingnya Pembinaan Seks Dini Pada Anak


Banyak orang yang masih menganggap tabu urusan seks, sebab membicarakan dianggap hanya untuk orang dewasa dan seks sangat pribadi. Padahal seks adalah kebutuhan dasar manusia seperti halnya makan dan minum.
Menganggap seks adalah hal yang tabu dengan alasan norma tertentu, bisa berbalik menjadi bumerang karena setiap penanganan masalah kesehatan reproduksi bisa terhambat dan tidak berjalan dengan baik.
“Orang yang menganggap seks itu tabu adalah bahaya laten. AIDS masuk ke Indonesia pada tahun 1998. Banyak orang yang tidak percaya penyakit tersebut bisa masuk ke sini karena Indonesia adalah negara religius. Akhirnya penanganan AIDS kurang optimal,” kata Zoya Amirin, M.Psi, psikolog seksual dalam sebuah acara live streaming bertema Blogger Bicara Seks oleh BlogDetik, Kamis (3/5).

Ia mengaku prihatin dengan pembubaran sejumlah lokalisasi yang beralasan agama. Bila lokalisasi tersebut dibubarkan, maka para PSK yang biasa menaungi sebuah lokasi justru akan menyebar ke berbagai tempat. Kondisi ini malah membuat kondisi kesehatan para PSK sulit diatur dan dipantau.
“Dengan tersebarnya para PSK. Malah lebih sulit memberi perawatan dan memantau masalah kesehatannya. Kalau dibubarkan penyakitnya bisa kemana-mana,” papar Zoya.
Berbeda dengan negara tetangga Singapura, Zoya juga memberikan contoh, disana para PSK mendapatkan id card dan didata dengan rapi. Hal ini dapat membuat pengawasan dan pantauan kondisi kesehatan lebih mudah. Bila mereka tidak mematuhi pemeriksaan kesehatan, izin operasi mereka bisa dicabut dan dilarang.

Bila seks dibicarakan dengan cara yang baik, masyarakat akan terbuka wawasannya, misalnya bagaimana seks yang aman dan sehat. Khusus bagi anak-anak dan remaja, mereka sudah seharusnya mendapatkan pengajaran sex education yang baik. Usia remaja adalah masa puber, mereka perlu diajarkan pentingnya kontrasepsi.
Mengajarkan pentingnya kontrasepsi bukan berarti menyetujui anak melakukan seks bebas, namun mengenalkan apa bahaya seks bebas, misalnya terjangkit penyakit seksual menular dan hamil di luar nikah.

“Saya pernah menyuruh mahasiswa saya yang rata-rata usianya 20 tahunan untuk membeli kondom. Setelah membeli kondom, saya tanya apakah dengan membeli kondom lantas mereka jadi ingin berhubungan seks? Ternyata tidak. Jadi bukan kondom yang menjadi masalahnya, tapi kesiapan mental,” ungkap Zoya.

Mau Melakukan Seks Bebas? Baca Ini Dulu !!!


Pendidikan seks atau seksualitas pendidikan adalah proses perolehan informasi dan pembentukan sikap dan keyakinan tentang seks, identitas seksual, hubungan dan keintiman. Ini juga merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan pendidikan mengenai anatomi seksual manusia, reproduksi seksual, hubungan seksual, kesehatan reproduksi, hubungan emosional dan aspek lain dari perilaku seksual manusia.


Bahaya Melakukan Hubungan Seks Pada Usia Muda

Hubungan seks di usia remaja meningkatkan risiko terkena kanker leher rahim atau serviks penyebab kematian, kata Plt Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau, Dwi Listya Wardhani, di Batam, Selasa (19/7).


Bahaya Seks Dini – Usia Muda

Menurut Wardhani, usia menimal wanita melakukan hubungan seksual adalah 21 tahun, itupun harus dilakukan setelah ada ikatan pernikahan. “Jika dilakukan sebelum usia matang, maka akan sangat beresiko terkena serviks,” Tambah Wardhani. Berdasarkan penelitian Organisasi kesehatan dunia (WHO), kata Wardhani, 490.000 wanita di seluruh dunia didiagnosa kanker serviks setiap tahun. Bahkan, hampir setengahnya meninggal dunia. “Artinya, setiap dua menit, seorang wanita meninggal akibat kanker serviks. Di Indonesia sendiri, satu wanita meninggal setiap jamnya,” kata Wardhani.

Survei Komisi Perlindungan Anak pada 2010 terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia menemukan 93 persen remaja pernah berciuman, 62,7 persen pernah berhubungan badan, dan 21 persen remaja telah melakukan oborsi. “Tak jarang, seorang wanita justru meniggal saat melakukan aborsi. Semua bisa dicegah, kuncinya bentengi diri dan hindari seks bebas,” kata Wardhani.

Ini adalah tugas para orang tua, masyarakat dan pemerintah untuk lebih mengedepankan lagi adanya pendidikan dan pengetahuan tentang seks dikalangan remaja yang harus di imbangi adanya pendidikan dan pengetahuan keagamaan yang lebih mengikat.
Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks.

Berdasarkan hasil survei Komnas Perlindungan Anak bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada 2007 diperoleh pengakuan remaja bahwa:
- Sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks.
- Sebanyak 62,7% anak SMP mengaku sudah tidak perawan.
- Sebanyak 21,2% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi.
- Dari 2 juta wanita Indonesia yang pernah melakukan aborsi, 1 juta adalah remaja perempuan.
- Sebanyak 97% pelajar SMP dan SMA mengaku suka menonton film porno.

Celakanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkimpoian. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Seks pranikah, lanjut Boyke juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat. Selain itu, seks pranikah akan meningkatkan kasus penyakit menular seksual, seperti sipilis, GO (ghonorhoe), hingga HIV/AIDS.

Masalah seks dengan pasangannya justru dijadikan legistimasi untuk melakukan seks bebas. Bahkan, saat ini, seks bebas sudah menjadi bagian dari budaya bisnis. Faktor yang melatarbelakangi hal ini, antara lain disebabkan berkurangnya pemahaman nilai-nilai agama. Selain itu, juga disebabkan belum adanya pendidikan seks secara formal di sekolah-sekolah. Selain itu, juga maraknya penyebaran gambar serta VCD porno. Hasil penelitian Komnas Anak tahun 2008? 62,7% remaja SMP sudah tidak perawan lagi. Yang paling mengerikan adalah fakta bahwa ada remaja SMP yang mengaku melakukan hubungan seks di rumahnya sendiri di ruang televisi.
Berbagai faktor ikut mempengaruhi di anataranya kurang perhatian orang tua, sekolah yang kurang dapat mengontrol hal ini atau memang karena tuntutan kemajuan jaman yang memaksa remaja melakukan hal ini.

Dengan berbagai masalah itu di kalangan remaja perlu segera diberikan suatu bekal pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar.


Berbagai Mitos-mitos seksualitas pada remaja :

1. Berhubungan seks dengan pacar merupakan bukti cinta

Faktanya, berhubungan seks bukan cara untuk menunjukan kasih sayang pada saat masih pacaran, melainkan karena disebabkan adanya dorongan seksual yang tidak terkontrol dan keinginan untuk mencoba-coba. Rasa sayang kita dengan pacar bisa ditunjukkan dengan cara lain.

2. Hubungan seks pertama kali selalu ditandai dengan keluarnya darah dari vagina

Faktanya, tidak selalu hubungan seks yang pertama kali itu keliahatan berdarah. Apabila komunikasi seksual terjalin dengan baik dan hubungan seksual dilakukan dalam keadaan siap dan disertai foreplay yang cukup bisa tidak memunculkan adanya perdarahan.

3. Loncat-loncat setelah berhubungan seks tidak akan menyebabkan kehamilan

Faktanya, ketika spermatozoa sudah memasuki vagina, maka spermatozoa akan mencari sel telur yang telah matang untuk dibuahi. Loncat-loncat tidak akan mengeluarkan spermatozoa. Jadi, tetap ada kemungkinan untuk terjadinya pembuahan atau kehamilan.

4. Selaput dara yang robek berarti sudah pernah melakukan hubungan seksual atau tidak perawan lagi

Faktanya tidak selalu demikian. Selaput dara merupakan selaput kulit yang tipis yang dapat meregang dan robek karena beberapa hal. Selain karena melakukan hubungan seks, selaput dara juga bisa robek karena melakukan olah raga tertentu seperti naik sepeda dan berkuda. Karena itu, robeknya selaput dara belum tentu karena hubungan seks, malah ada juga perempuan yang sudah menikah dan berhubungan seks berkali-kali tapi selaput daranya masih utuh dan tidak koyak karena selaput daranya elastis.

5. Keperawanan dapat ditebak dari cara berjalan dan bentuk pinggul

Faktanya, keperawanan tidak bisa dilihat dari bentuk pinggul atau cara jalan. Keperawanan kadang dipandang dari 2 sisi, bagi yang memandang dari sisi fisik saja (ini berkaitan dengan selaput dara), tapi hanya bisa diketahui melalui hasil pemeriksaan dokter. Jadi hanya dari pemeriksaan khususlah yang memungkinkan diketahuinya selaput dara robek atau tidak serta kemungkinan penyebabnya. Hanya saja keperawanan kembali lagi bukan cuma fisik. Kedua, dari sisi psikososial yang mengacu pada apakah seseorang perempuan sudah pernah melakukan hubungan seks atau belum. Ini sebaiknya yang dijadikan acuan, tetapi keperawanan bukan berarti segalanya di hari begini.

6. Dorongan seksual laki-laki lebih besar daripada perempuan

Faktanya, dorongan seksual merupakan hal yang alamiah muncul pada setiap individu pada umumnya dimulai saat ia menginjak masa pubertas (karena mulai berfungsinya hormon seksual). Dan ini sangat wajar dan seimbang baik pada laki-laki maupun perempuan. Faktor yang mempengaruhi dorongan seksual antara lain kepribadian, pola sosialisasi, dan pengalaman seksual. Dorongan seksual perempuan sering disebut-sebut lebih kecil dari laki-laki kerena lingkungan menganggap perempuan yang mengekspresikan dorongan seksualnya adalah perempuan yang “nakal atau kurang baik” , sementara laki-laki tidak pernah dipermasalahkan.

7. Perempuan yang berdada besar dorongan seksualnya besar

Faktanya tidak seperti itu. Secara medis, tidak ada hubungan langsung antara ukuran payudara dengan dorongan seksual seseorang. Dorongan seksual itu ditentukan oleh kepribadian, pola sosialisasi, dan pengalaman seksual (melihat, mendengar, atau merasakan suatu rangsangan seksual).

8. Masturbasi bisa menyebabkan lutut kopong

Faktanya, masturbasi tidak menyebabkan lutut menjadi kopong. Spermatozoa tidak diproduksi dan tidak disimpan di dalam lutut, melainkan di testis. Mungkin setelah masturbasi, biasanya timbul rasa lelah, karena masturbasi mengeluarkan banyak energi. Itulah yang membuat menjadi lemas, jadi bukan karena lututnya jadi kosong.

9. Sering masturbasi bisa membuat mandul

Faktanya, secara medis masturbasi tidak menggangu kesehatan fisik selama dilakukan secara aman (tidak sampai menimbulkan luka atau lecet). Resiko fisik biasanya berupa kelelahan. Pengaruh masturbasi biasanya bersifat psikologis, seperti perasaan bersalah, berdosa dan kadarnya berbeda-beda bagi setiap orang. Kemandulan justru biasanya akibat dari IMS (infeksi menular seksual) atau penyakit lainnya seperti kanker atau karena sebab fisik lainnya misalnya kualitas sperma yang kurang baik.
masihkan anda mau melakukan seks bebas ?