Like Us

Selasa, 12 Februari 2013

Seks Bebas Menurut Perspektif Psikologi



Hasil  penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Bahayanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum , tampaknya berkembang semakin serius. Penelitian yang dilakukan Dr Boyke, pada tahun 1999 lalu terhadap pasien yang datang ke Klinik Pasutri, tercatat sekitar 18 persen remaja pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).



Kenyataan ini, tentunya tidak bisa kita biarkan, harus ada upaya-upaya yang integrative untuk menangani dan mencegah munculnya kasus-kasus seks bebas, mengingat dampakny yang sangat membahayakan bagi diri,masyarakat dan keberlangsungannya suatu generasi. Mengapa kasus free sex lebih banyak terjadi dikalangan remaja?

Dinamika Munculnya Prilaku Seks Bebas dan Penyebabanya

Masa remaja adalah masa penuh perubahan. Semuanya seakan tidak stabil Dan membingungkan, bahkan bagi si remaja sendiri. Perubahan yang paling mudah di lihat, tentu saja adalah perubahan fisik terutama berkembangnya fungsi-fungsi organis dan psikis. Tinggi badan bertambah pesat, bentuk badan berubah, yang laki-laki tumbuh kumis, jakun, mengalami mimpi basah, sementara yang perempuan tumbuh payudara dan mengalami menstruasi. Proses organis yang paling penting pada masa pubertas ialah kematangan seksual.
Disisi lain, remaja umumnya kurang mengenali organ tubuhnya. Tidak sedikit di antara mereka yang bertanya pada teman sebaya tentang perubahan fisik yang dialami. Dan tidak sedikit pula diantaranya yang terjebak informasi salah. . Seksualitas menjadi hal yang sangat menarik perhatian remaja, karena pada saat remaja perangkat seksualnya telah berkembang pesat dan dorongan seksualpun menjadi hal yang sangat akrab bagi kehidupan remaja. Pada saat itu, remaja butuh informasi dan pengetahuan atas semua yang terjadi.

Menurut  Guntoro Utamadi, Psikolog yang juga pengasuh rubik Curhat di harian Kompas, tingkat Pemahaman remaja yang dipengaruhi mitos-mitos lingkungan sekitar, khususnya dari teman sebaya dapat membahayakan perkembangan mental remaja bila tidak segera didampingi oleh orang yang dipandang tepat memberi informasi yang benar. Pemahaman remaja terhadap resiko perilaku yang mereka lakukan seringkali sangat minim. Mereka merasa telah melakukan berbagai pencegahan dan antisipasi , akan tetapi sebenarnya yang mereka ketahui adalah informasi yang salah. Dan remaja perempuan, lebih rentan terhadap berbagai resiko dan berbagai kerugian dari perilaku seksual tersebut. Seperti, resiko kehamilan, aborsi, PMS, lebih banyak akan diderita oleh perempuan.


Tragisnya, banyak remaja perempuan yang tidak bisa mengatakan TIDAK melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Karena ada anggapan ini satu paket dalam berpacaran. Kalau tidak, mereka dianggap bukan anak gaul.Karena terpedaya oleh rayuan, ketakutan diputus pacarnya, sampai dengan ancaman dan paksaan membuat remaja perempuan menjadi beresiko lebih tinggi. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran terhadap tubuh sendiri dan pemahaman bahwa tubuhnya adalah miliknya dan bertanggung jawab, sangat diperlukan bagi remaja perempuan. Kemampuan berkata tidak yang sering kali berhubungan erat dengan rasa percaya diri, harus selalu dilatihkan. Remaja laki-laki juga harus sering diajak mengembangkan dorongan seksualnya dan menghormati perempuan.


Faktor lain, adalah bahwa masalah seks dengan pasangannya justru dijadikan legistimasi untuk melakukan seks bebas. Bahkan, saat ini, seks bebas sudah menjadi bagian dari budaya bisnis. Factor yang melatarbelakangi hal ini, menurut Boyke, antara lain disebabkan berkurangnya pemahaman nilai-nilai agama. Selain itu, juga disebabkan belum adanya pendidikan seks secara formal di sekolah-sekolah. Selain itu, juga maraknya penyebaran gambar serta VCD porno.

Peran media massa, diakui Maria Hartiningsih, wartawan senior Harian Kompas, mampu membentuk realitas dari kehidupan. Ketika menghadapi dorongan seks luar biasa, penyaluran yang dibayangkan remaja adalah hubungan seksual. Dan berbagai media yang menyalurkan minat mereka itu, tersedia di mana-mana dengan murahnya dan membawa remaja pada perilaku tidak benar.


Berdasarkan survey Pusat Studi Wanita Universitas Islam Indonesia (PSW-UII) Yogyakarta, jumlah remaja yang mengalami masalah kehidupan seks terutama di Yogyakarta terus bertambah, akibat pola hidup seks bebas. Mengapa demikian? karena pada kenyataannya pengaruh gaya seks bebas yang mereka terima jauh lebih kuat dari pada control yang mereka terima maupun pembinaan secara keagamaan. Selain itu, munculnya perilaku seks bebas di kalangan remaja yang marak belakangan ini tidak terlepas dari pengaruh era globalisasi, serta berkaitan erat dengan pengaruh Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya).

Dampak Prilaku Seks Bebas

Maraknya seks bebas di kalangan remaja membuat banyak pihak sangat prihatin. Salah satunya adalah Ketua Yayasan Sayap Ibu Daerah Istimewa Yogyakarta Ny Hj Ciptaningsih Utaryo. Pasalnya,  hal itu akan menimbulkan masalah baru bukan hanya bagi wanita remaja itu sendiri, tapi juga pada anak-anak yang akan dilahirkan. Terlebih anak yang lahir tersebut merupakan anak yang tidak dikehendaki, sehingga ada kecenderungan akan ditelantarkan orang tua.

Selain itu,tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara.

Menurut, Siswanto A Wilopo, sekjen IPADI dan Deputi KB dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Pusat, ada 15 juta perempuan remaja melahirkan anak dan sebagian dari mereka sudah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Setiap tahun, 500.000 perempuan meninggal dunia karena melahirkan dan lebih dari 65.000 diantaranya adalah remaja perempuan meninggal karena aborsi tidak aman.


Dari kasus konsultasi yang masuk ke PKBI, permasalahan remaja terutama yang berkaitan dengan seksualitas telah sedemikian jauh Dan mencapai tahap beresiko tinggi. Walaupun kasus-kasus seperti kehamilan yang tidak dikehendaki (KTD), HIV, penyakit menular seksual (PMS), bahkan kasus terbanyak, akan tetapi jumlah remaja yang telah mengalami hal-hal tersebut telah mencakup dan membuat kita prihatin serta perlu waspada. Apalagi kalau kita menyadari kalau jumlah kasus yang muncul dan diketahui hanya merupakan fenomena gunung es, hanya tampak sedikit di permukaan, kalau kita lengah tiba-tiba semuanya sudah terlambat. Karena seringnya remaja dijadikan target, penularan virus HIV pada usia 14 – 20 tahun mencapai  60 persen sendiri karena suntikan (narkoba).

Penanganan

Penduduk usia 15-24 tahun adalah masa depan dunia. Kalau saja mereka berperilaku produktif dan terpuji akan menjadi maslahah (kebaikan) bagi bangsa. Namun bila sebaliknya, akan menjadi masalah bagi bangsa,” ungkap Rozy Munir, Ketua Umum IPADI (Ikatan Peminat dan Ahli Demografi Indonesia) saat berbicara dalam seminar Pengembangan SDM Menuju Penduduk Berkualitas memperingati hari Kependudukan Sedunia pada tanggal 11 Juli 2003 lalu di Auditorium BKKBN Jakarta.

Masalah remaja memang menentukan masa depan bangsa. Oleh karena itu, dalam peringatan hari kependudukan sedunia tahun ini mengambil tema “Kesehatan Remaja dan Seksualitas Remaja”. Saat ini , sekitar satu miliar penduduk usia remaja memasuki perilaku reproduksi yang dapat membahayakan atau justru mengancam kehidupannya.

Lalu, bagaimana sikap kita mengatasi permasalahan yang ada di kalangan remaja? “Berikan pemahaman yang jelas tentang masalah kesehatan reproduksi. Karena, sebagian besar remaja melakukan perilaku kehidupan reproduksi tidak sehat karena belum tahu benar pentingnya menjaga kesehatan reproduksi remaja,” tukas Siswanto (Sekjen IPADI).

Hal senada diungkapkan Dr Bernard Coquelin, representatif UNFPA (United Nations Population Fund), bahwa untuk menekankan tingginya jumlah penderita HIV pada remaja di dunia adalah dengan memberikan pendidikan, informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi. “Akan dikemanakan remaja kita, bila setiap hari ada 6.000 remaja baik laki-laki maupun perempuan terinveksi virus HIV. Ini menunjukkan bahwa mereka butuh informasi ini.”


Sebagian besar, remaja yang telah aktif secara seksual (baik yang berstatus kawin atau tidak) pada usia kurang dari 20 tahun, belum menyentuh pelayanan reproduksi (termasuk pelayanan kontrasepsi), pencegahan dan perawatan kesehatan seksual menular dan HIV/AIDS serta perawatan kehamilan dan persalinan. Sehingga, sudah saatnya di kalangan remaja diberikan suatu bekal pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar. Pendidikan Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi juga bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari percobaan melakukan seks bebas.

Hal lain yang diperlukan dalam menangani kasus-kasus seks bebas yang semakin marak adalah, dengan memberikan pemahaman yang tepat tentang seks. Pengetahuan  seks yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong remaja untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salah persepsi. Dalam kaitan dengan hubungan seksual, bisa diambil contoh ada remaja yang berpendapat, kalau hanya sekali bersetubuh, tidak bakal terjadi kehamilan. Atau, meloncat-loncat atau mandi sampai bersih segera setelah melakukan hubungan seksual bisa mencegah kehamilan.

Bagi sebagian orang, seks memang masih dianggap tabu dan konsumsi orang dewasa. Sehingga, berbicara mengenai seks harus secara pribadi. Padahal justru pada masa remaja, pendidikan seks harus dimulai diberikan. Pada masa ini mereka sedang mengalami perubahan organ-organ seks, baik primer maupun sekunder. Jika tidak diberikan pengetahuan yang cukup, ditakutkan malah salah arah. Alasan lain adalah, bahwa pengetahuan seks sangat penting dan bagaimanapun seks berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Jika konsep mengenai seks yang diterima salah, maka banyak akibat dan risikonya. Serta, penanganan aktivitas seks juga bisa tidak tepat.

Oleh karena itu, sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu definisi kata “seks” itu sendiri. Seks memang memiliki definisi yang luas. Namun, jika kita berbicara mengenai seks secara keseluruhan, maka yang dimaksudkan adalah pendidikan mengenai jenis kelamin.


Definisi seks, dapat dikelompokkan menurut beberapa dimensi, Di antaranya:

Dimensi Biologis
Berkaitan dengan alat reproduksi. Di dalamnya termasuk pengetahuan mengenai hormon-hormon, menstruasi, masa subur, gairah seks, bagaimana menjaga kesehatan dan gangguan seperti PMS (penyakit menular seksual), dan bagaimana menfungsikannya secara optimal secara biologis.

Dimensi Faal
Mencakup pengetahuan mengenai proses pembuahan, bagaimana ovum bertemu dengan sperma dan membentuk zigot dan seterusnya.

Dimensi Psikologis
Seksualitas berkaitan dengan bagaimana kita menjalankan fungsi kita sebagai mahluk seksual dan identitas peran jenis. Mengapa pria dipandang lebih agresif daripada wanita?

Dimensi Medis
Adalah pengetahuan mengenai penyakit yang di oleh hubungan seks, terjadinnya impotensi, nyeri, keputihan dan lain sebagainya.

Dimensi Sosial
Seksualitas berkaitan dengan hubungan interpersonal (hubungan antar sesama manusia). Seringkali, hambatan interaksi ditimbulkan oleh kesenjangan peran jenis antara laki-laki dan perempuan. Hal ini dipengaruhi oleh faktor budaya dan idola asuh yang lebih memprioritaskan posisi laki-laki. Anggapan tersebut harus diluruskan. karena jenis kelamin tidak menentukan mana yang lebih baik atau berkualitas.

Dari hasil survei oleh WHO tentang pendidikan seks membuktikan, pendidikan seks bisa mengurangi atau mencegah perilaku hubungan seks sembarangan, yang berarti pula mengurangi tertularnya penyakit-penyakit akibat hubungan seks bebas.  Dan, pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak azasi manusia serta nilai-nilai kultur dan agama sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.

Hanya yang jadi masalah hingga kini, Pendidikan seks di Indonesia masih mengundang kontroversi. Sekaliipun untuk tujuan pendidikan, anggapan tabu untuk berbicara soal seks masih menancap dalam benak sebagian masyarakat. Akibatnya, anak-anak yang berangkat remaja jarang yang mendapat bekal pengetahuan seks yang cukup dari ortu (orang tua). Padahal tidak jarang para remaja sendiri yang berinisiatif bertanya, tapi justru sering disambut dengan “kemarahan”. Untuk itu diperlukan pengertian dan pemahaman orang tua akan pentingnya hal tersebut diatas, sehingga ketika anaknya mulai memasuki masa puber dan berinteraksi dengan lawan jenisnya ia telah memperoleh pemahaman tentang rambu-rambu dalam bergaul.

Persentase Perilaku Seksual Remaja
 
Rataan Umur Pelaku Seks Bebas
Persentase Aktivitas Seks Bebas Remaja

Mari Perangi Seks Bebas Demi Masa Depan Yang Lebih Baik

1 komentar: